Halaman

Cari Blog Ini

Sabtu, 14 September 2013

Bangsa Assyria


Ketika Babilonia menguasai bagian selatan Mesopotamia, bangsa Assyria yang senang berperang menguasai bagian utara kawasan itu. Kerajaan Assyria berpusat di hulu Sungai Tigris.
Raja Adadnirari I, sebagai penguasa kuat pertama negeri ini (1770-1750 SM), memperluas wilayah Assyria dan mendapat gelar ‘Raja atas Segalanya’. Ia dan para penggantinya adalah dictator yang tidak membiarkan negara lain merdeka. Assyria menjadi kaya berkat kagiatan para keluarga pedagang yang menjual tekstil dan logam ke berbagai negeri.
Runtuh dan Jaya Kembali
Tahun-tahun Penting
2500 SM
Bangsa Assyria bermukim di hulu Sungai Tigris
1900 SM
Pertumbuhan Assyria Tua
1680 SM
Assyria jatuh ke tangan bangsa Hur (hingga 1400 SM)
1300-1200 SM
Assyria memperluas wilayahnya
1076 SM
Assyria jatuh ke tangan bangsa Aram (hingga 934 SM)
730-630 SM
Perluasan wilayah Assyria mencapai puncaknya
612 SM
Assyria jatuh ke tangan bangsa Babilonia dan Medes
Saat wilayah Assyria bertambah luas, semakin banyak pemberontakan rakyat di wilayah jajahan. Akhirnya, Assyria jatuh ke tangan bangsa Hur (kerabat bangsa Hittit). Bangsa Hur menguasai Assyria selama 250 tahun. Walaupun kekuasaannya sempat menurun, Assyria menjadi kuat kembali. Periode kejayaan Assyria berlangsung selama 300 tahun. Assyria mencapai puncak keemasan di bawah Raja Tiglathpileser I. Raja ini memimpin penaklukan atas negara-negara tetangga setiap tahun. Assyria kemudian menguasai seluruh kawasan itu, termasuk menaklukan Babilonia.
Kemakmuran Assyria
Sekitar tahun 1076 SM, Assyria dan Babilonia ditaklukan oleh suku Aram dari Suriah. Namun, 150 tahun kemudian, Ashurdan II dan para penggantinya menguasai kembali kekaisaran Assyria. Ibukotanya kemudian dipindahkan ke Niniweh, tempat dibangunnya banyak gedung dan proyek irigasi. Para raja Assyria memperluas wilayah untuk menguasai semua jalur perdagangan dan menindas negara tetangga yang membuat masalah. Kekaisaran Assyria mencapai puncak kejayaan di bawah pemerintahan Raja Tiglathpileser III (745-727 SM) yang wilayah kekuasaannya meliputi Babilonia, Suriah, Palestina, Siprus, Arabia bagian utara, dan Mesir.
Raja Assyria merupakan penguasa absolut yang terlibat aktif dalam semua masalah kenegaraan. Di istana Assurbanipal yang megah, raja mendengarkan keluhan dari rakyat sambil dikelilingi oleh para penasehat. Istana raja sangat besar, dengan taman yang luas. Sebagai pelindung kesenian, raja menulis banyak catatan sejarah Babilonia dan Sumeria, serta berbagai teks matematika, ilmu kimia, dan astronomi.
Kehidupan Bangsa Assyria
Bangsa Assyria adalah ilmuwan hebat. Mereka membangun berbagai kota megah dengan banyak kuil dan istana. Kaum pria mengenakan jubah panjang dan berjanggut. Kaum wanita mengenakan gaun berlengan pendek dengan selendang sebahu. Banyak pria menjual istri dan anak sebagai budak untuk membayar utang.
Kejatuhan Assyria
Penguasa terakhir dan terbesar di Assyria adalah Raja Assurbanipal. Ia merupakan raja terpelajar. Selama pemerintahannya, sebuah perpustakaan besar di ibukota Niniweh dibangun. Berbagai catatan kuno Sumeria dan Akadia dilestarikan dalam lembaran tanah liat, bersama dengan sejumlah catatan mengenai kesusastraan, sejarah, matematika, dan astronomi dari zaman kuno. Saat Assurbanipal wafat pada tahun 627 SM, kekaisaran Assyria jatuh ke tangan bangsa Babilonia dan Medes.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar