Halaman

Cari Blog Ini

Rabu, 17 Oktober 2018

BAB 1 LATAR BELAKANG KARYA TULIS ILMIAH (KTI) GAGAL JANTUNG KONGESTIF (CHF)


BAB I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap tahunnya lebih dari 36 juta orang meninggal karena Penyakit Tidak Menular (PTM) (63% dari seluruh kematian). Lebih dari 9 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% dari kematian dini tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Secara global PTM penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya adalah penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti :Penyakit Jantung Koroner, Penyakit Gagal jantung atau Payah Jantung, Hipertensi dan Stroke. Pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler atau Jantung (Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI,2013).
Jantung merupakan struktur kompleks yang terdiri atas jaringan fibrosa, otot-otot jantung dan jaringan konduksi listrik. Jantung mempunyai fungsi utama untuk memompakan darah. Hal ini dapat dilakukan dengan baik bila kemampuan otot jantung untuk memompakan cukup baik, sistem katup, serta irama pemompaan yang baik. Bila ditemukan ketidaknormalan pada salah satu di atas, maka akan memengaruhi efisiensi pemompaan dan kemungkinan dapat menyebabkan kegagalan memompa (Muttaqin, 2012).
Kegagalan jantung bekerja sebagai pompa akan menyebabkan proses aliran darah tidak lancar. Kegagalan kerja pompa jantung terlihat dengan jelas pada penyakit gagal jantung kongestif / Congestive Heart Failure (CHF) (Ronny,2009).
Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri  (Smeltzer & Bare,2001).
Gagal jantung kongestif adalah kondisi progresif kronis di mana jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ini salah satu penyakit jantung yang paling umum terjadi di Amerika Serikat (AHA,2015).
Di Amerika Serikat kejadian tahunan Gagal jantung meningkat dari 250.000 kasus pada tahun 1970 menjadi 825.000 kasus pada tahun 2010, memberikan kontribusi untuk prevalensi 5,1 juta orang yang berusia > 20 tahun. Risiko untuk mendapatkan gagal jantung terjadi pada usia sekitar  40 tahun dan lebih banyak terjadi pada pria dari pada wanita  dengan perbandingan 1 : 5 (Jaski, 2015).
Sekarang lebih dari 870.000 kasus baru dilaporkan setiap tahunnya. Sekitar setengah dari semua orang meninggal dalam waktu lima tahun setelah didiagnosis. Jumlah orang yang didiagnosis dengan gagal jantung diperkirakan meningkat dari sekitar 6 juta menjadi hampir 8 juta pada 2030 (AHA,2015).
Jumlah penderita Gagal jantung terus meningkat, terutama sebagai penyakit penuaan. Prevalensi juga bervariasi oleh ras dan etnis. Setelah usia 20, prevalensi gagal jantung sekitar dua kali lipat dalam  setiap dekade kehidupan. Pada tahun 2010, diperkirakan 5,1 juta orang  Amerika yang berusia 20 tahun mengidap gagal jantung. Berdasarkan komunitas cross sectional studi, 10% orang yang berusia lebih dari 80 tahun memiliki gagal jantung. Pada mereka dengan gagal jantung, 88% terjadi pada usia lebih dari 65 tahun, dan 49% dari mereka adalah yang  lebih tua dari 80 tahun. Selain itu prevalensi gagal jantung juga dipengaruhi oleh perbedaan etnis atau warna kulit. Kulit hitam yang paling terpengaruh dan memiliki kenaikan diperkirakan selama 20 tahun ke depan, dari 2,8% menjadi 3,6%. Peningkatan prevalensi etnis tertentu dikaitkan dengan insiden yang lebih tinggi terhadap terjadinya hipertensi, obesitas, dan diabetes (Jaski, 2015).
Di Amerika Serikat pada 2010, gagal jantung meyumbangkan  57.757 angka kematian dari 279.098 kasus, gagal jantung adalah  penyebab utama dari kematian (Jaski, 2015).
Gagal jantung mencapai titik kritis karena peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Penyebab paling umum dari terjadinya gagal jantung selama ini adalah penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dan diabetes (AHA, 2015).
Di Indonesia belum ada data epidemiologi untuk gagal jantung, Namun penyakit jantung dan pembuluh darah ini terus meningkat dan akan memberikan beban kesakitan, kecacatan dan beban sosial ekonomi bagi keluarga penderita, masyarakat, dan negara. Adapun prevalensi penyakit gagal jantung di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0.13% ( Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Berdasarkan data yang diperoleh dari RSU Santo Vincentius tercatat  sebanyak 230 kasus Gagal Jantung Kongestif di rawat di RSU Santo Vincentius selama tahun 2015, dan data terakhir dari jumlah kasus pada tahun 2016 ditemukan 241 kasus, 2017 ditemukan 253 yang di rawat inap di RSU Santo Vincentius. Jumlah kasus Gagal Jantung Kongestif ini menunjukkan angka yang tinggi setiap tahunnya. Setelah itu angka penderita gagal jantung pada tahun 2015 cenderung menurun namun masih tergolong dalam 3 besar penyakit yang di rawat inap di RSU Santo Vincentius. (Rekam medik RSU Santo Vincentius, 2017).
 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat gagal jantung, termasuk meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif ini. Asuhan keperawatan akan dilakukan melalui pendekatan dari proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Adapun tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan gagal jantung dimulai dari pengkajian yang merupakan langkah awal dalam asuhan keperawatan yaitu pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data laboratorium.
Menurut Padila (2012) keluhan yang paling sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah : dispnea, kelemahan fisik, dan edema sistemik. Setelah dilakukan pengkajian, maka dilakukan analisis terhadap data yang dikumpulkan selama pengkajian untuk menegakan diagnosa keperawatan. Kemudian dari hasil analisa tersebut seorang perawat akan menarik diagnosa. Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan gagal jantung adalah nyeri dada akut berhubungan dengan kurangnya suplai darah ke miokardium, gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema pada paru (perubahan membran kapiler-alveolar), intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan atau dispnea akibat turunnya curah jantung, ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot-otot pernapasan, disfungsi neuromuskular, sindrom hipoventilasi, ketidakefektifan bersihan jalan napas, ansietas berhubungan dengan kesulitan bernapas dan kegelisahan akibat oksigenasi yang tidak adekuat, risiko penurunan perfusi jaringan jantung, kelebihan volume cairan, kerusakan integritas kulit, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan defisit perawatan diri (Hardhi, Amin. 2013 NANDA).
Manusia bersifat unik maka respon yang muncul pada pasien gagal jantung juga akan berbeda-beda pula. Tidak menutup kemungkinan setiap pasien akan memiliki diagnosa keperawatan yang berbeda tergantung dengan hasil pengkajian yang telah dilakukan. Setelah itu, perawat akan merencanakan tindakan yang akan dilakukan oleh perawat, mulai dari tindakan mandiri perawat hingga tindakan kolaborasi perawat dengan tenaga medis lainnya. Perbedaan diagnosa keperawatan pada setiap pasien menyebabkan  pemberian tindakan keperawatan antara satu pasien dengan yang lain pun berbeda tergantung pada kondisi pasien dan hasil dari pengkajian yang telah dilakukan.
Rencana tindakan keperawatan dibuat untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan pasien. Rencana keperawatan dilakukan berdasarkan masalah yang kita dapatkan pada tahap pengkajian dan diagnosa. Misalnya, pada masalah nyeri dada akut berhubungan dengan kurangnya suplai darah ke miokardium, intervensi yang dibuat berupa lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor presipitasinya, observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif, minta klien untuk melaporkan nyeri (skala 0-10) atau ketidaknyamanan dengan segera, bantu klien untuk mengatur posisi fisiologis, istirahatkan klien, lakukan masase punggung dan relaksasi, berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur, ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam, ajarkan teknik distraksi (pengalihan perhatian ) pada saat nyeri, kendalikan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya suhu ruangan, penncahayaan, kegaduhan dan jumlah pengunjung), kolaborasi mengenai pemberian antiagina pada klien, serta berkolaborasi mengenai pemberian analgesik dengan dokter (Hardhi, Amin. 2013 NANDA).
Setelah membuat perencanaan, maka selanjutnya implementasi. Implementasi adalah tindakan dari perencanaan yang telah dibuat. Dan selanjutnya adalah mengevaluasi kemajuan pasien terhadap tindakan dan pencapaian tujuan dari tindakan keperawatan. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk mengukur tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan. Dalam melakukan evaluasi dapat menggunakan metode SOAP (subjektif, objektif, analisis, planning) sehingga dapat diketahui masalah yang teratasi dan masalah yang belum teratasi serta yang terjadi dan belum terjadi. Pendekatan proses keperawatan yang ada pada pasien gagal jantung kongestif diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan benar bagi penderitanya sehingga dapat mengurangi angka kesakitan, kecacatan  serta kematian akibat gagal jantung kongestif.
Alasan peneliti memilih studi kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah karena banyaknya angka penderita gagal jantung kogestif baik di dunia, Indonesia, kemudian di RSU Santo Vincentius itu sendiri. Pada tahun 2015 penderita gagl jantung kongestif menjadi kasus paling banyak di RSU Santo Vincentius tetapi, Pada tahun 2016, angka penderita gagal jantung kongestif mengalami kenaikan pada jumlah tetapi pada tahun 2017 mendapat urutan ke-2 setelah penyakit Dyspepsia.
Berdasarkan uraian data di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan studi kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif di Ruang Penyakit Dalam St Lukas di RSU Santo Vincentius.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar