Jumat, 20 September 2013

Ketenagakerjaan - Materi Ekonomi SMA XI IPS



Tenaga Kerja
Tenaga kerja adalah penduduk dalam usia kerja yang siap melakukan pekerjaan

        Tenaga kerja terdidik adalah tenaga kerja yang memiliki suatu keahlian atau kemahiran dalam bidang tertentu dengan cara sekolah atau pendidikan formal dan nonformal. Contohnya: pengacara, dokter, guru, dan lain-lain.
        Tenaga kerja terampil adalah tenaga kerjayang memiliki keahlian dalam bidang tertentu dengan melalui pengalaman kerja. Tenaga kerja terampil ini dibutuhkan latihan secara berulang-ulang sehingga mampu menguasai pekerjaan tersebut. Contohnya: apoteker, ahli bedah, mekanik, dan lain-lain.
        Tenaga kerja tidak terdidik adalah tenaga kerja kasar yang hanya mengandalkan tenaga saja. Contoh: kuli, buruh angkut, pembantu rumah tangga, dan sebagainya


Bukan Tenaga Kerja
Bukan tenaga kerja adalah mereka yang dianggap tidak mampu dan tidak mau bekerja, meskipun ada permintaan bekerja
 
Angkatan Kerja
Angkatan kerja adalah penduduk usia produktif yang berusia 15-64 tahun yang sudah mempunyai pekerjaan tetapi sementara tidak bekerja, maupun yang sedang aktif mencari pekerjaan

Bukan Angkatan Kerja
Bukan angkatan kerja adalah mereka yang berumur 10 tahun ke atas yang kegiatannya hanya bersekolah, mengurus rumah tangga dan sebagainya. Contoh kelompok ini adalah :
      anak sekolah dan mahasiswa
      para ibu rumah tangga dan orang cacat, dan
      para pengangguran sukarela
      rendahnya kualitas tenaga kerja

Kualitas tenaga kerja dalam suatu negara dapat ditentukan denganmelihat tingkat pendidikan negara tersebut. Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia, tingkat pendidikannya masih rendah. Hal ini menyebabkan penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menjadi rendah. Kurangnya penguasaan ilmu pengetahuan dan teknologi menyebabkan rendahnya produktivitas tenaga kerja, sehingga hal ini akan berpengaruh terhadap rendahnya kualitas hasil produksi barang dan jasa.

Masalah Ketenagakerjaan

Jumlah Angkatan Kerja yang Tidak Sebanding dengan Kesempatan Kerja
Meningkatnya jumlah angkatan kerja yang tidak diimbangi oleh perluasan lapangan kerja akan membawa beban tersendiri bagi perekonomian. Angkatan kerja yang tidak tertampung dalam lapangan kerja akan menyebabkan pengangguran. Padahal harapan pemerintah, semakin banyaknya jumlah angkatan kerja bisa menjadi pendorong pembangunan ekonomi.

Persebaran Tenaga Kerja yang Tidak Merata
Sebagian besar tenaga kerja di Indonesia berada di Pulau Jawa. Sementara di daerah lain masih kekurangan tenaga kerja, terutama untuk sektor pertanian, perkebunan, dan kehutanan.Dengan demikian di Pulau Jawa banyak terjadi pengangguran, sementara di daerah lain masih banyak sumber daya alam yang belum dikelola secara maksimal.

Kesempatan Kerja
Kesempatan kerja secara umum diartikan sebagai suatu keadaan yang mencerminkan jumlah dari total angkatan kerja yang dapat diserap atau ikut secara aktif dalam kegiatan perekonomian. Kesempatan kerja adalah penduduk usia 15 tahun keatas yang bekerja atau disebut pula pekerja.

Esmara (1986 :  134), kesempatan kerja dapat diartikan sebagai jumlah penduduk yang bekerja atau orang yang sudah memperoleh pekerjaan; semakin banyak orang yang bekerja semakin luas kesempatan kerja.

Sagir (1994 : 52), memberi pengertian kesempatan kerja sebagai lapangan usaha atau kesempatan kerja yang tersedia untuk bekerja akibat dari suatu kegiatan ekonomi, dengan demikian kesempatan kerja mencakup lapangan pekerjaan yang sudah diisi dan kesempatan kerja juga dapat diartikan sebagai partisipasi dalam pembangunan. Sedangkan Sukirno (2000 : 68), memberikan pengertian kesempatan kerja sebagai suatu keadaan dimana semua pekerja yang ingin bekerja pada suatu tingkat upah tertentu akan dengan mudah mendapat pekerjaan.

Swasono dan Sulistyaningsih (1993), memberi pengertian kesempatan kerja adalah termasuk lapangan pekerjaan yang sudah diduduki (employment) dan masih lowong (vacancy). Dari lapangan pekerjaan yang  masih lowong tersebut timbul kemudian kebutuhan tenaga kerja yang datang misalnya dari perusahaan swasta atau BUMN dan departemen-departemen pemerintah. Adanya kebutuhan tersebut berarti ada kesempatan kerja bagi orang yang menganggur. Dengan demikian kesempatan kerja (employment) yaitu kesempatan kerja yang sudah diduduki.

Dari definisi di atas, maka kesempatan kerja dapat dibedakan menjadi dua golongan yaitu
·     Kesempatan kerja permanen yaitu kesempatan kerja yang memungkinkan orang bekerja secara terus-menerus sampai mereka pensiun atau tidak mampu lagi untuk bekerja. Misalnya adalah orang yang bekerja pada instansi pemerintah atau swasta yang memiliki jaminan sosial hingga hari tua dan tidak bekerja ditempat lain.
·         Kesempatan kerja temporer yaitu kesempatan kerja yang memungkinkan seseorang bekerja dalam waktu yang relatif singkat, kemudian menganggur untuk menunggu kesempatan kerja baru. Misalnya adalah orang yang bekerja sebagai pegawai lepas pada perusahaan swata dimana pekerja mereka tergantung order.

Pengangguran
Terjadinya krisis ekonomi di Indonesia banyak mengakibatkan industri di Indonesia mengalami gulung tikar. Akibatnya, banyak pula tenaga kerja yang berhenti bekerja. Selain itu, banyaknya perusahaan yang gulung tikar mengakibatkan semakin sempitnya lapangan kerja yang ada. Di sisi lain jumlah angkatan kerja terus meningkat. Dengan demikian pengangguran akan semakin banyak.

Jenis pengangguran menurut penyebabnya :
1.      Pengangguran Siklis / Konjungtural
Pengangguran siklis / konjungtural disebabkan oleh siklus ekonomi atau merosotnya kegiatan perekonomian, misalnya : terjadinya krisis ekonomi global membuat banyak perusahaan bangkrut yang berimbas pada PHK karyawan
Cara mengatasi :
·           Peningkatan daya beli masyarakat
·           Mengarahkan permintaan masyarakat untuk membeli barang dan jasa
·           Memperluas pasar barang dan jasa
·           Mengatur suku bunga bank agar tidak terlalu tinggi

2.      Pengangguran Struktural
Pengangguran struktural disebabkan oleh perubahan struktur ekonomi suatu negara, misalnya: perubahan dari sektor agraris ke industri sehingga terjadi pengangguran di sektor agraris
Cara mengatasi :
·           Pendidikan dan pelatihan tenaga kerja
·           Mendirikan industri padat karya
·           Meningkatkan mobilitas modal dan tenaga kerja
·      Memindahkan kelebihan tenaga kerja dari tempat dan sektor yang berlebihan ke tempat dan sektor yang kekurangan

3.      Pengangguran Teknologi
Penganggutan teknologi disebabkan adanya modernisasi / kemajuan teknologi dalam berproduksi, misalnya : pabrik yang dulu menggunakan tenaga kerja manusia diganti dengan mesin mesin, akibatnya mengurangi tenaga kerja manusia
Cara mengatasi :
·       Mempersiapkan masyarakat untuk dapat mengikuti perkembangan teknologi dengan cara memasukkan materi kurikulum pelatihan teknologi di sekolah.
·           Pengenalan teknologi sejak dini
·           Pelatihan tenaga pendidik untuk penguasaan teknologi

4.      Pengangguran Friksional
Penggangguran friksional disebabkan adanya kesulitan temporer, yaitu pergeseran yang tiba-tiba terjadi pada penawaran dan permintaan tenaga kerja sehingga sulit mempertemukan pencari kerja dengan lowongan kerja yang ada. Misalnya : pekerja yang berkeinginan memperoleh pekerjaan yang lebih baik, selama proses seleksi ia akan menunggu maka ia dapat dikategorikan sebagai pengangguran friksional
Cara mengatasi :
·           Memberikan informasi yang lengkap tentang permintaan dan penawaran tenaga kerja
·           Menyusun rencana penggunaan tenaga kerja sebaik mungkin
·           Memberikan bantuan pinjaman lunak untuk UKM

5.      Pengangguran Musiman
Pengangguran musiman disebabkan adanya pergantian / perubahan musim, biasanya terjadi di daerah pertanian, misalnya : petani yang menunggu musim panen, maka ia akan menganggur untuk sementara waktu
Cara mengatasi :
·           Pemberian informasi yang jelas tentang adanya lowongan kerja pada bidang lain
melakukan pelatihan keterampilan tenaga kerja di waktu luang
mengadakan pelatihan kerja

6.      Pengangguran Voluntary / Sukarela
Pengangguran voluntary / sukarela disebabkan adanya orang yang sebenarnya masih dapat bekerja tetapi dengan sukarela tidak bekerja, sebab ia memperoleh penghasilan dari harta/kekayaan mereka, misalnya: seorang yang menyewakan rumah
Cara mengatasi :
·           Menarik investor baru
·           Pengembangan transmigrasi
·           Memberikan bantuan pinjaman lunak untuk UKM

7.      Pengangguran Deflasioner
Pengangguran deflasioner disebabkan karena lowongan pekerjaan tidak cukup untuk menampung pencari kerja
Cara mengatasi :
·           Pelatihan tenaga kerja
·           Menarik investor baru
·           Pengembangan transmigrasi                                                                                                 

Jenis Pengangguran Menurut Sifatnya


1.      Pengangguran Terbuka
Pengangguran terbuka adalah orang yang sama sekali tidak bekerja dan tidak berusaha mencari pekerjaan.
2.      Setengah Menganggur                                                                                                     
Setengah menganggura adalah orang yang bekerja tetapi tenaganya kurang termanfaatkan diukur dari jam kerja, produktivitas kerja, dan penghasilannya, misalnya :
Pekerjaan yang seharusnya dilakukan 2 orang dikerjakan 4 orang, berarti 2 orang diantaranya adalah setengah menganggur atau orang yang bekerja kurang dari 35 jam per minggu dapat dikatakan setengah menganggur
3.      Pengangguran Terselubung
Pengangguran terselubung adalah tenaga kerja yang tidak bekerja secara optimal karena suatu alasan tertentu, misalnya : seorang sarjana yang bekerja sebagai tukang parkir mobil

Rabu, 18 September 2013

Pengertian Kebugaran Jasmani


A.      Kebugaran Jasmani
Ismaryati (2006:37) mengatakan kebugaran atau kesegaran jasmani adalah kata lain dari Physical Fitness. Sedangkan menurut Djoko pekik (1999:2) beberapa istilah yang sering dipergunakan antara lain : kebugaran, kesegaran, kesemaptaan dan fitness. Istilah-istilah tersebut pada dasarnya memiliki pengertian yang sama, meliputi kebugaran fisik, kebugaran mental, kebugaran emosi dan kebugaran sosial atau diberi nama istilah total fitness.
Morehouse dan Miller (dalam Nurhasan dan Cholil, 2007:97) kebugaran jasmani merupakan bagian dari total fitness. Dalam total fitnes terdapat beberapa komponen yaitu :
1.    Anatomocal Fitness
2.    Physiological Fitness (kebugaran jasmani)
3.    Phychological Fitness
Nurhasan dan Cholil, (2007:98) mendefenisikan sementara dari hasil seminar kebugaran jasmani nasional yang diselanggarakan oleh Direktorat Jendral Olahraga dan Pemuda pada tanggal 16-20 maret 1971 di Jakarta, mengenai physical fitness adalah kesanggupan dan kemampuan untuk melakukan pekerjaan dengan efisien tanpa menimbulkan kelelahan yang berarti.
Kebugaran yang baik mampu melaksanakan tugasnya sehari-hari baik dalm bekerja atau aktivitas sehari-hari dan masih memiliki cadangan tenaga untuk melaksanakan aktivitas selanjutnya tanpa mengalami kelelahan. Menurut Clarke (1975) (dalam Matakupan, 1995:51) kebugaran jasmani merupakan kemampuan melaksanakan tugas sehari-hari dengan baik dan kuat, tanpa kelelahan yang berarti, serta dapat mengatasi keadaan darurat yang tidak disangka-sangka. Dengan demikian maka dapat dikatakan, bahwa kebugaran jasmani merupakan kemampuan untuk kuat menahan beban, melawan tekanan (stress), dan tekun dalam mengatasi keadaan yang sulit.
Djoko pekik (1999:2) secara umum yang dimaksud dengan kebugaran atau kesegaran jasmani adalah kebugaran fisik (physical fitness), yakni: kemampuan seseorang untuk dapat melakukan kerja sehari-hari secara efisien tanpa timbul kelelahan yang berlebihan sehingga masih dapat menikmati waktu luangnya. Kebugaran yang baik membuat seseorang mampu beradaptasi terhadap lingkungannya dan tidak merasa lelah. menurut Soedjatmo Soemowerdojo (dalam Ismaryati, 2006:40) kebugaran jasmani yaitu kemampuan tubuh untuk menyesuaikan fungsi alat-alat tubuhnya dalam batas-batas fisiologis terhadap keadaan lingkungan dan atau kerja fisik dengan cara yang cukup efisien tanpa lelah secara berlebihan, sehingga masih dapat melakukan kegiatan-kegiatan lain.
Soetarman Soedjatmo Soemowerdojo (dalam Ismaryati, 2006:40) mendefinisikan kebugaran jasmani sebagai salah satu aspek, yaitu aspek fisik dari kebugaran yang menyeluruh (total fitness), yang memberi kesanggupan kepada    seseorang untuk menjalani hidup yang produktif dan dapat menyesuaikan diri pada tiap-tiap pembebanan fisik yang layak. Jadi dengan demikian dapat dikemukakan bahwa ada komponen-komponen yang dapat mempengaruhi  kebugaran jasmani yaitu antara lain sebagai berikut:
1.   Kondisi fisik setelah melakukan tugas-tugas yang diberikan tetap baik.
2.   Kemampuan untuk kapasitas seseorang dalam melaksanakan tugas sehari-          hari.
3.   Kemampuan untuk mengatasi dalam keadaan sukar.
Seseorang memerlukan kebugaran yang baik. Setiap manusia berbeda-beda dalam kebutuhan sehari-hari. Berdasarkan umur, jenis kelamin, dan pekerjaan. Menurut Ismaryati (2006:40) berdasarkan fungsinya, kebugaran jasmani dikelompokkan menjadi dua, yaitu: fungsi yang bersifat umum dan khusus. Fungsi umum kebugaran jasmani adalah untuk mengembangkan kekuatan, kemampuan, kesanggupan, daya kreasi, dan daya tahan setiap manusia yang berguna untuk mempertinggi daya kerja. Fungsi khusus kebugaran jasmani adalah sesuai dengan kekhususan masing-masing.
Setiap orang memiliki aktivitas yang berbeda-beda, dan aktivitas tersebut dimulai dari sejak dini dari anak-anak sampai tua. Hal ini dikarenakan setiap aktivitas maupun pekerjaan memerlukan kebugaran yang baik, maka sejak dini perlu penanaman nilai dari pendidikan jasmani untuk memperoleh kebugaran yang baik pula. Menurut Soebroto, dkk (1979:54) kebugaran jasmani merupakan salah satu masalah pendidikan olahraga dan dalam hubungan dengan pendidikan seumur hidup di atas dianggap penting sekali untuk diperhatikan setiap orang.
Setiap anak harus diketahui potensi kebugaran jasmaninya, potensi tersebut berguna untuk mengetahui anak dalam keadaan kebugaran yang baik atau tingkat kebugarannya rendah dengan demikian perlu pembinaan dan latihan dari dini sehingga yang memiliki kebugaran rendah akan dapat di kembangkan dan ditingkatkan kebugarannya agar semakin baik.

Soebroto, dkk, (1979:57) menyatakan perlu diketahui potensi-potensi            pada setiap anak. Potensi-potensi tersebut dinamakan komponen-komponen    dari kebugaran jasmani:
a.    Daya tahan terhadap gangguan penyakit.
b.   Daya tahan otot-otot dalam jangka waktu lama.
c.    Daya tahan pernafasan dan jantung.
d.   Kekuatan otot, dalam arti kecepatan penggunaan tenaga.
e.    Kelentukan, kemampuan jangkauan areal gerak.
f.    Kecepatan, urutan gerak yang sama dalam waktu singkat.
g.   Ketrampilan, kemampuan mengubah posisi.
h.   Koordinasi, penyesuaian berbagai gerak dalam satu pola gerakan.
i.     Kesetimbangan, kontrol gerakan dari gangguan jatuh.
j.     Ketepatan, kontrol gerakan terhadap obyek tertentu.

Matakupan, (1995:59) menyatakan dengan demikian maka anak yang dapat terus menerus dalam waktu yang agak lama bermain, akan mempunyai kemungkinan besar untuk dapat dikembangkan dasar geraknya, kemampuan geraknya. Hal ini disebabkan telah dibekali dengan tingkat kebugaran jasmani yang baik, bahkan tingkat kebugaran motorik yang baik pula.

Entri yang Diunggulkan

SOAL KEPERAWATAN GERONTIK Tanda-Tanda Vital

 Tanda-Tanda Vital 1. Suhu tubuh normal orang dewasa adalah... A. 34–35°C B. 36,5–37,5°C C. 38–39°C D. 40–41°C Jawaban: B 2. Alat u...