Kamis, 18 Oktober 2018

MAKALAH LATAR BELAKANG KESEHATAN GIZI LENGKAP TUJUAN DAN MASALAH YANG DIHADAPI

BAB I
PENDAHULUAN
A. Latar Belakang
Gizi merupakan salah satu faktor penting yang menentukan tingkat kesehatan dan keserasian antara perkembangan fisik dan perkembangan mental. Tingkat keadaan gizi normal tercapai bila kebutuhan zat gizi optimal terpenuhi. Tingkat gizi seseorang dalam suatu masa bukan saja ditentukan oleh konsumsi zat gizi pada masa lampau, bahkan jauh sebelum masa itu (Budiyanto, 2002).
Faktor yang secara langsung mempengaruhi status gizi adalah asupan makan dan penyakit infeksi. Berbagai faktor yang melatarbelakangi kedua faktor tersebut misalnya faktor ekonomi, keluarga, produktivitas dan pengetahuan tentang gizi anak tersebut (Suhardjo, 2003).
Usia remaja (10-19 tahun) biasanya sangat rentan terhadap masalah gizi, karena pada usia remaja banyak mengalami perubahan secara hormonal dan berpengaruh pada perubahan fisiknya. Pertumbuhan fisik menyebabkan remaja membutuhkan asupan nutrisi yang lebih besar dari pada masa anak-anak. Ditambah lagi pada masa ini, remaja sangat aktif dengan berbagai kegiatan, baik itu kegiatan sekolah maupun olahraga. Khusus pada remaja putri, asupan nutrisi juga dibutuhkan untuk persiapan reproduksi (Sundari, 2004)
Anak remaja yang baru mengalami perubahan hormon maupun fisik biasanya belum terlalu paham dengan perubahan tersebut dan masih dalam tahap proses adaptasi. Pengetahuan sesorang, remaja utamanya dipengaruhi oleh
2
pendidikan. Kurangnya pengetahuan gizi dapat mengakibatkan, ketidakteraturan perilaku dan kebiasaan makan dapat menjadi penyebab terjadinya masalah gizi (Notoadmodjo, 2005).
Peningkatan pengetahuan tentang gizi dapat dilakukan dengan program pendidikan gizi yang dilakukan oleh pemerintah. Program pendidikan gizi dapat memberikan pengaruh terhadap pengetahuan, sikap, dan perilaku anak terhadap kebiasaan makannya (Soekirman, 2000).
Hasil penelitian yang dilakukan oleh Amelia (2008) tentang hubungan pengetahuan gizi seimbang dengan status gizi pada anak remaja menunjukkan perbedaan yang tidak signifikan. Hal ini dikarenakan pengetahuan gizi merupakan faktor yang secara tidak langsung dalam mempengaruhi status gizi. Berbeda dengan hasil penelitian yang dilakukan oleh Maulana (2012) tentang hubungan pengetahuan gizi seimbang dengan status gizi pada anak SD menunjukkan bahwa pengetahuan gizi mempengaruhi sikap dan perilaku dalam pemilihan pangan yang dibeli. Anak yang memiliki pengetahuan yang kurang rata-rata memilih jajanan atau pangan yang kurang sehat dan bergizi, sehingga status gizinya rendah.
Status gizi baik atau status gizi optimal terjadi apabila tubuh mendapat asupan zat gizi yang cukup. Status gizi kurang dapat terjadi apabila tubuh mengalami kekurangan satu atau lebih zat gizi esensial. Status gizi lebih dapat terjadi apabila tubuh memperoleh zat gizi yang melebihi dari angka kecukupan, sehingga menimbulkan efek yang membahayakan bagi tubuh (Soekirman, 2000).
Hasil penelitian yang dilakukan Amelia (2013) tentang hubungan asupan zat gizi (energi, protein, zinc) terhadap status gizi menunjukkan hubungan yang sangat
3
signifikan, terlihat energi sangat berpengaruh terhadap status gizi. Hal ini sesuai teori bahwa kebutuhan konsumsi protein pada usia remaja (10-18 tahun) mengalami kenaikan sejalan dengan proses pertumbuhan yang pesat.
Data Riskesdas (2010), secara umum persentase anak remaja di Indonesia yang memiliki tubuh pendek hampir mencapai 30%, anak yang kurus mencapai 8,9% dan anak yang kegemukan mencapai 1,4%. Data Riskesdas (2010) Jawa Tengah menunjukkan status gizi remaja umur 16-18 tahun menurut kategori TB/U yang memiliki tubuh pendek sebesar 23,9 % dan yang memiliki status gizi normal sebesar 70,3%. Status gizi remaja Jawa Tengah yang dihitung dengan rumus IMT didapatkan remaja yang memiliki tubuh kurus sebesar 6,7%, normal 91,0% dan gemuk 0,7%. Dilihat dari besarnya angka jumlah masalah gizi pada remaja di Indonesia, utamanya Provinsi Jawa Tengah maka dapat disimpulkan bahwa sejauh ini masih terjadi masalah gizi remaja di Provinsi Jawa Tengah.
Berdasarkan survey pendahuluan dilakukan peneliti pada 13 Januari 2014 di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura pengetahuan tentang gizi seimbang dari siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura 22,91% memiliki pengetahuan kurang. Status gizi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura 50% status gizi kurang dan 18,7% status gizi overweight. Berdasarkan hal tersebut, maka peneliti akan melakukan penelitian di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura, untuk mengetahui hubungan pengetahuan gizi dan tingkat asupan zat gizi makro terhadap status gizi siswa di SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
4
B. Rumusan Masalah
Berdasarkan latar belakang di atas, maka rumusan masalah adalah apakah ada hubungan antara tingkat asupan zat gizi makro dan pengetahuan gizi seimbang dengan status gizi siswa-siswi SMP Muhammadiyah Kartasura.
C. Tujuan Penulisan
1. Tujuan Umum
Mengetahui hubungan tingkat asupan zat gizi makro dan pengetahuan tentang gizi seimbang dengan status gizi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
2. Tujuan Khusus
1. Mendeskripsikan tingkat asupan zat gizi makro siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
2. Mendeskripsikan tingkat pengetahuan tentang gizi seimbang siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
3. Menghitung status gizi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
4. Menganalisis hubungan asupan zat gizi makro dengan status gizi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
5. Menganalisis hubungan pengetahuan gizi seimbang dengan status gizi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
5
D. Manfaat Penelitian
1. Bagi siswa-siswi SMP Muhammadiyah 1 Kartasura.
Memberikan informasi kepada siswa tentang gizi, sehingga siswa senantiasa menjaga status gizi.
2. Bagi Pihak Sekolah
Memberikan masukan kepada sekolah agar memasukkan informasi gizi melalui mata pelajaran pendidikan jasmani dan kesehatan serta memberikan informasi tentang gizi, sehingga wali murid dan guru senantiasa menjaga status gizi anak didiknya.
3. Penelitian selanjutnya
Memberikan manfaat sebagai bahan bacaan, acuan tentang hubungan asupan zat gizi dan pengetahuan gizi seimbang terhadap status gizi.

Rabu, 17 Oktober 2018

BAB 1 MANFAAT PENELITIAN KARYA TULIS ILMIAH (KTI) GAGAL JANTUNG KONGESTIF (CHF)


A.  Manfaat Penelitian
1.      Bagi Instansi Terkait
Sebagai tambahan informasi tentang asuhan keperawatan pasien dengan Gagal Jantung Kongestif dan bahan pertimbangan bagi instansi terkait untuk memperbaiki upaya penanganan Gagal Jantung Kongestif, sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif.

2.      Bagi Institusi Jurusan Keperawatan Singkawang
Bagi institusi pendidikan studi kasus ini dapat menjadi sumber data, informasi, atau bahan rujukan untuk kegiatan pendidikan kesehatan mahasiswa/i seperti dalam pembuatan leaflet tentang pasien dengan Gagal Jantung Kongestif.

3.      Bagi Masyarakat
Menambah informasi dan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif dengan memanfaatkan teknologi yang telah berkembang yaitu dengan mempublikasikan hasil penelitian ini di beberapa media sosial yang mudah di akses masyarakat, sehingga masyarakat bisa mengetahui apa itu gagal jantung kongestif, pencegahan maupun pengobatannya.

4.      Bagi Peneliti
            Menambah pengetahuan, wawasan dan memberi pengalaman langsung dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki.

BAB 1 LATAR BELAKANG KARYA TULIS ILMIAH (KTI) GAGAL JANTUNG KONGESTIF (CHF)


BAB I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap tahunnya lebih dari 36 juta orang meninggal karena Penyakit Tidak Menular (PTM) (63% dari seluruh kematian). Lebih dari 9 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% dari kematian dini tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Secara global PTM penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya adalah penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti :Penyakit Jantung Koroner, Penyakit Gagal jantung atau Payah Jantung, Hipertensi dan Stroke. Pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler atau Jantung (Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI,2013).
Jantung merupakan struktur kompleks yang terdiri atas jaringan fibrosa, otot-otot jantung dan jaringan konduksi listrik. Jantung mempunyai fungsi utama untuk memompakan darah. Hal ini dapat dilakukan dengan baik bila kemampuan otot jantung untuk memompakan cukup baik, sistem katup, serta irama pemompaan yang baik. Bila ditemukan ketidaknormalan pada salah satu di atas, maka akan memengaruhi efisiensi pemompaan dan kemungkinan dapat menyebabkan kegagalan memompa (Muttaqin, 2012).
Kegagalan jantung bekerja sebagai pompa akan menyebabkan proses aliran darah tidak lancar. Kegagalan kerja pompa jantung terlihat dengan jelas pada penyakit gagal jantung kongestif / Congestive Heart Failure (CHF) (Ronny,2009).
Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri  (Smeltzer & Bare,2001).
Gagal jantung kongestif adalah kondisi progresif kronis di mana jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ini salah satu penyakit jantung yang paling umum terjadi di Amerika Serikat (AHA,2015).
Di Amerika Serikat kejadian tahunan Gagal jantung meningkat dari 250.000 kasus pada tahun 1970 menjadi 825.000 kasus pada tahun 2010, memberikan kontribusi untuk prevalensi 5,1 juta orang yang berusia > 20 tahun. Risiko untuk mendapatkan gagal jantung terjadi pada usia sekitar  40 tahun dan lebih banyak terjadi pada pria dari pada wanita  dengan perbandingan 1 : 5 (Jaski, 2015).
Sekarang lebih dari 870.000 kasus baru dilaporkan setiap tahunnya. Sekitar setengah dari semua orang meninggal dalam waktu lima tahun setelah didiagnosis. Jumlah orang yang didiagnosis dengan gagal jantung diperkirakan meningkat dari sekitar 6 juta menjadi hampir 8 juta pada 2030 (AHA,2015).
Jumlah penderita Gagal jantung terus meningkat, terutama sebagai penyakit penuaan. Prevalensi juga bervariasi oleh ras dan etnis. Setelah usia 20, prevalensi gagal jantung sekitar dua kali lipat dalam  setiap dekade kehidupan. Pada tahun 2010, diperkirakan 5,1 juta orang  Amerika yang berusia 20 tahun mengidap gagal jantung. Berdasarkan komunitas cross sectional studi, 10% orang yang berusia lebih dari 80 tahun memiliki gagal jantung. Pada mereka dengan gagal jantung, 88% terjadi pada usia lebih dari 65 tahun, dan 49% dari mereka adalah yang  lebih tua dari 80 tahun. Selain itu prevalensi gagal jantung juga dipengaruhi oleh perbedaan etnis atau warna kulit. Kulit hitam yang paling terpengaruh dan memiliki kenaikan diperkirakan selama 20 tahun ke depan, dari 2,8% menjadi 3,6%. Peningkatan prevalensi etnis tertentu dikaitkan dengan insiden yang lebih tinggi terhadap terjadinya hipertensi, obesitas, dan diabetes (Jaski, 2015).
Di Amerika Serikat pada 2010, gagal jantung meyumbangkan  57.757 angka kematian dari 279.098 kasus, gagal jantung adalah  penyebab utama dari kematian (Jaski, 2015).
Gagal jantung mencapai titik kritis karena peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Penyebab paling umum dari terjadinya gagal jantung selama ini adalah penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dan diabetes (AHA, 2015).
Di Indonesia belum ada data epidemiologi untuk gagal jantung, Namun penyakit jantung dan pembuluh darah ini terus meningkat dan akan memberikan beban kesakitan, kecacatan dan beban sosial ekonomi bagi keluarga penderita, masyarakat, dan negara. Adapun prevalensi penyakit gagal jantung di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0.13% ( Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Berdasarkan data yang diperoleh dari RSU Santo Vincentius tercatat  sebanyak 230 kasus Gagal Jantung Kongestif di rawat di RSU Santo Vincentius selama tahun 2015, dan data terakhir dari jumlah kasus pada tahun 2016 ditemukan 241 kasus, 2017 ditemukan 253 yang di rawat inap di RSU Santo Vincentius. Jumlah kasus Gagal Jantung Kongestif ini menunjukkan angka yang tinggi setiap tahunnya. Setelah itu angka penderita gagal jantung pada tahun 2015 cenderung menurun namun masih tergolong dalam 3 besar penyakit yang di rawat inap di RSU Santo Vincentius. (Rekam medik RSU Santo Vincentius, 2017).
 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat gagal jantung, termasuk meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif ini. Asuhan keperawatan akan dilakukan melalui pendekatan dari proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Adapun tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan gagal jantung dimulai dari pengkajian yang merupakan langkah awal dalam asuhan keperawatan yaitu pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data laboratorium.
Menurut Padila (2012) keluhan yang paling sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah : dispnea, kelemahan fisik, dan edema sistemik. Setelah dilakukan pengkajian, maka dilakukan analisis terhadap data yang dikumpulkan selama pengkajian untuk menegakan diagnosa keperawatan. Kemudian dari hasil analisa tersebut seorang perawat akan menarik diagnosa. Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan gagal jantung adalah nyeri dada akut berhubungan dengan kurangnya suplai darah ke miokardium, gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema pada paru (perubahan membran kapiler-alveolar), intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan atau dispnea akibat turunnya curah jantung, ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot-otot pernapasan, disfungsi neuromuskular, sindrom hipoventilasi, ketidakefektifan bersihan jalan napas, ansietas berhubungan dengan kesulitan bernapas dan kegelisahan akibat oksigenasi yang tidak adekuat, risiko penurunan perfusi jaringan jantung, kelebihan volume cairan, kerusakan integritas kulit, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan defisit perawatan diri (Hardhi, Amin. 2013 NANDA).
Manusia bersifat unik maka respon yang muncul pada pasien gagal jantung juga akan berbeda-beda pula. Tidak menutup kemungkinan setiap pasien akan memiliki diagnosa keperawatan yang berbeda tergantung dengan hasil pengkajian yang telah dilakukan. Setelah itu, perawat akan merencanakan tindakan yang akan dilakukan oleh perawat, mulai dari tindakan mandiri perawat hingga tindakan kolaborasi perawat dengan tenaga medis lainnya. Perbedaan diagnosa keperawatan pada setiap pasien menyebabkan  pemberian tindakan keperawatan antara satu pasien dengan yang lain pun berbeda tergantung pada kondisi pasien dan hasil dari pengkajian yang telah dilakukan.
Rencana tindakan keperawatan dibuat untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan pasien. Rencana keperawatan dilakukan berdasarkan masalah yang kita dapatkan pada tahap pengkajian dan diagnosa. Misalnya, pada masalah nyeri dada akut berhubungan dengan kurangnya suplai darah ke miokardium, intervensi yang dibuat berupa lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor presipitasinya, observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif, minta klien untuk melaporkan nyeri (skala 0-10) atau ketidaknyamanan dengan segera, bantu klien untuk mengatur posisi fisiologis, istirahatkan klien, lakukan masase punggung dan relaksasi, berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur, ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam, ajarkan teknik distraksi (pengalihan perhatian ) pada saat nyeri, kendalikan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya suhu ruangan, penncahayaan, kegaduhan dan jumlah pengunjung), kolaborasi mengenai pemberian antiagina pada klien, serta berkolaborasi mengenai pemberian analgesik dengan dokter (Hardhi, Amin. 2013 NANDA).
Setelah membuat perencanaan, maka selanjutnya implementasi. Implementasi adalah tindakan dari perencanaan yang telah dibuat. Dan selanjutnya adalah mengevaluasi kemajuan pasien terhadap tindakan dan pencapaian tujuan dari tindakan keperawatan. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk mengukur tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan. Dalam melakukan evaluasi dapat menggunakan metode SOAP (subjektif, objektif, analisis, planning) sehingga dapat diketahui masalah yang teratasi dan masalah yang belum teratasi serta yang terjadi dan belum terjadi. Pendekatan proses keperawatan yang ada pada pasien gagal jantung kongestif diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan benar bagi penderitanya sehingga dapat mengurangi angka kesakitan, kecacatan  serta kematian akibat gagal jantung kongestif.
Alasan peneliti memilih studi kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah karena banyaknya angka penderita gagal jantung kogestif baik di dunia, Indonesia, kemudian di RSU Santo Vincentius itu sendiri. Pada tahun 2015 penderita gagl jantung kongestif menjadi kasus paling banyak di RSU Santo Vincentius tetapi, Pada tahun 2016, angka penderita gagal jantung kongestif mengalami kenaikan pada jumlah tetapi pada tahun 2017 mendapat urutan ke-2 setelah penyakit Dyspepsia.
Berdasarkan uraian data di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan studi kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif di Ruang Penyakit Dalam St Lukas di RSU Santo Vincentius.

CONTOH SOAL MENAJEMEN KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN


KELOMPOK 9 : KEPEMIMPINAN DALAM KEPERAWATAN
  1. Seorang manajer di suatu rumah sakit swasta. selalu mengambil keputusan sendiri walaupun banyak anggotanya yang berpendidikan sederajat dengannya, selalu memberikan beban kerja yang diluar aturan yang sudah ada dengan harapan visi dari rumah sakit tersebut cepat tercapai, dan dia selalu menyampaikan kalo keputusan yang di ambil adalah mewakili dari anggota walaupun tanpa ada proses musyawarah dahulu. Apakah  gaya kepemimpinan yang di gunakan manajer rumah sakit tersebut?
a.       Autokratic.
b.      Demokratic
c.       Laisess faire
d.      Transformasional
e.       Partisipatif
KUNCI = A
  1. Diruang bedah umum  terdiri dari  Jumlah tenaga keperawatan sebanyak 18 orang, dengan 4 orang  lulusan Sarjana keperawatan,  11 orang lulusan diploma keperawatan dan 3 orang pekarya kesehatan,dengan kapasitas tempat Tidur 22  Tempat tidur . BOR 60% Tingkat ketergantungan pasien yaitu total care 4 orang, parsial 6 orang dan  Kepala ruangan ingin menerapkan  metode asuhan keperawatan. Apakah metode asuhan keperawatan yang tepat pada ruangan tersebut ?
a.       Metode asuhan fungsional
b.      Metode asuhan modifikasi
c.       Metode asuhan primer
d.      Metode asuhan kasus
e.       Metode asuhan tim.
KUNCI = E
  1. Seorang perawat pelaksanan di Ruang Penyakit Dalam mengambil beberapa sampel darah untuk keperluan diagnostic pada penyakit HIV/AIDS. Secara tidak sengaja jarinya tertusuk jarum bekas pakai . Apakah tindakan yang harus segera dilakukan perawat tersebut ?
a.       Meminta resep obat ARV pada dokter
b.      Melakukan pemeriksaan darah HIV- AIDS
c.       Melaporkan kejadian ini pada TIM keselamatan kerja
d.      Mencoba mengeluarkan darah dan desinfeksi bekas tusukan.
e.       Membasuh luka tusukan pada air yang mengalir
KUNCI = D
  1. Seorang perawat dari hasil evaluasi kinerja dari pihak manajemen ditetapkan sebagai perawat berprestasi di Rumah sakit, manajemen rumah sakit memberikan penghargaan dengan diberikan paket liburan keluar negeri selama 1 minggu. Apakah bentuk penghargaan yang diberikan oleh manajemen Rumah sakit tersebut?
a.     Imbalan sosial
b.     Motivasi langsung
c.     Kompensasi langsung
d.     Kompensasi non moneter
e.     Kompensasi tidak langsung.
KUNCI = E
  1. Seorang kepala bidang keperawatan, melaksanakan rapat dengan mengundang seluruh kepala ruangan yang ada di rumah sakit. Pada rapat tersebut Kabidang keperawatan menetapkan dan menyampaikan visi dan misi keperawatan yang baru. Apakah Fungsi manajemen yang dilakukan kepala bidang keperawatan tersebut?
a.       Perencanaan.
b.      Pengorganisasian
c.       Pengaturan staf
d.      Pengarahan
e.       Pengendalian
KUNCI = A
  1. Seorang kepala ruang Bangsal Penyakit Dalam pada hari yang sama harus menghadiri beberapa kegiatan,  pada pukul 08.00 WITArapat dengan direktur,  kemudian Pukul 10.00 WITAmemimpin Ronde keperawatan, dan pukul 08.30 WITAharus mengikuti rapat rutin bulanan di ruangan.
Apakah kemampuan yang harus dimiliki oleh kepala ruangan tersebut?
a.       Kecedasan Emosional yang bagus
b.      Pengelolaan waktu yang efektif.
c.       Pengetahuan yang luas
d.      Stamina yang bagus
e.       Kerja cepat selesai
KUNCI = B

  1. Seorang  Kepala ruangan Penyakit Dalam di rumah sakit, kepala ruangan tersebut ingin  lingkungan kerja di tempatnya nyaman dan kondusif dalam menghadapi tuntutan akreditasi rumah sakit. Dari analisa tenaga masih banyak berpendidikan SPK dan D3 keperawatan. Apakah tindakan utama yang harus dilakukan kepala ruangan tersebut?
a.       Selalu mengambil keputusan sendiri
b.      Memberi motivasi untuk lanjut studi.
c.       Mengerjakan semuanya di usahakan sendiri.
d.      Memberi beban kerja yang sama antar anggota
e.       Menjadwalkan dinas sesuai dengan beban kerja
KUNCI = B

  1. Seorang kepala ruangan memberikan kebebasan kepada anggotanya untuk melakukan perubahan atau ide untuk dijalankan dengan tidak di kontrol oleh kepala ruangan tersebut. kepala ruangan hanya memberikan arahahan apabila diminta, karena kepala ruangan menilai bahwa bawahannya mampu dan mempunyai motivasi dan komitmen yang tinggi. Apakah gaya kepemimpinan yang diterapkan kepala ruangan tersebut?
a.       Autokratic
b.      Demokratik
c.       Laisess faire.
d.      Transformasional
e.       Spiritual
KUNCI = C
                          
  1. Seorang kepala ruang di bangsal bedah sedang melakukanpenilaian kinerja triwulan. Hasil  menunjukkan tidak ada inisiatif, dan kurang berpikir kritis dalam menganalisis hasil pengkajian dan hanya bekerja sesuai rutinitas.Dari kesimpulan menujukan stagnansi prestasi kerja perawat dalam memberikan asuhan keperawatan. Apa yang prioritas kepala ruang lakukan dalam ruang tersebut?
a.       Menyiapkan reward bagi perawat dengan kinerja baik
b.      Merancang inovasi pelaksanaan asuhan keperawatan.
c.       Menyusun ulang standar operasional prosedur di ruangan
d.      Menyusun standar supervisi yang ideal untuk perawat pelaksana
e.       Mengajukan rancangan perubahan aturan insentif perawat kepada manajemen keperawatan RS
KUNCI = B

  1. Seorang kepala ruang  melihat langsung bahwa proses timbang terima berjalan tidak efektif dan berdampak pada kinerja anggota perawat dalam memberikan asuhan keperawatan pada shift berikutnya. Perawat cenderung melaporkan hal yang sama setiap waktu dan tidak memenuhi aspek proses keperawatan. Apa tindakan yang tepat untuk dilaksanakan oleh karu?
a.       Mensupervisi dokumen kehadiran timbang terima
b.      Mensupervisi tindakan keperawatan yang dilakukan
c.       Mensupervisi jalannya timbang terima setiap shift dinas
d.      Mensupervisi isi kegiatan dan laporan asuhan keperawatan.
e.       Mensupervisi standar prosedur kegiatan timbang terima di ruangan
KUNCI = D

Entri yang Diunggulkan

Margin Saham: Pengertian, Risiko, dan Saham yang Menarik untuk Dipertimbangkan

Mengenal Margin Saham Dalam dunia investasi saham, istilah margin sering kali menjadi topik yang menarik karena menawarkan peluang memperole...