Rabu, 20 November 2019

Konsep Penyakit Gagal Jantung Kongestif

1.    Definisi
Gagal jantung disebut juga CHF (Congestive Heart Failure) atau Decomp Cordis. Gagal jantung adalah keadaan patofisiologik dimana jantung sebagai pompa tidak mampu memenuhi kebutuhan darah untuk matabolisme jaringan (Price, 2002).
               Gagal jantung kongestif bukanlah penyakit dengan diagnosis tunggal, melainkan sindrom yang muncul dari beberapa etiologi / penyebab. Gagal jantung didefinisikan sebagai sindrom klinis yang kompleks dari setiap gangguan struktural  atau fungsional dari pengisian ventrikel atau ejeksi darah. Gagal jantung dapat berkembang secara diam-diam dan awalnya tidak terdeteksi. Penyakit penyerta umumnya menyulitkan penilaian. Melebihi gejala penyebab penyumbatan pembuluh darah, gagal jantung juga mengancam kehidupan melalui disfungsi pompa dan kematian mendadak (Jaski, 2015).
               Gagal jantung adalah suatu keadaan ketika jantung tidak mampu mempertahankan sirkulasi yang cukup bagi kebutuhan tubuh, meskipun tekanan pengisian vena normal. Namun, definisi-definisi lain menyatakan bahwa gagal jantung bukanlah suatu penyakit yang berbatas pada satu sistem organ, melainkan suatu sindrom klinis akibat kelainan jantung yang ditandai dengan suatu respon hemodinamik, renal, neural dan hormonal serta keadaan patologis dimana kelainan fungsi jantung menyebabkan kegagalan jantung memompa darah untuk memenuhi kebutuhan jaringan atau hanya dapat memenuhinya dengan meningkatkan tekanan pegisian. Saat ini dikenal beberapa istilah gagal jantung, yaitu :
a.    Gagal jantung kiri : terdapat bendungan paru, hipotensi, dan vasokontriksi perifer dengan penurunan perfusi jaringan.
b.    Gagal jantung kanan : ditandai dengan adanya edema perifer, asites dan peningkatan tekanan vena jugularis.
c.    Gagal jantung kongestif : adalah gabungan kedua gambaran tersebut. (Muttaqin, 2012).

2.    Klasifikasi Gagal Jantung
               Pada tahun 1928, New York Heart Association (NYHA) mengklasifikasikan tingkat keparahan gagal jantung berdasarkan beratnya gejala. Berikut ini adalah klasifikasi gagal jantung menurut NYHA :

Tabel 1
Klasifikasi Gagal Jantung (The 4 Stage Of Heart Failure, 2015)
Kelas
Definisi
Istilah
I
Klien dengan kelainan jantung tetapi tanpa pembatasan aktivitas fisik
Disfungsi ventrikel kiri yang asimtomatik
II
Klien dengan kelainan jantung yang menyebabkan sedikit pembatasan aktivitas fisik
Gagal jantung ringan
III
Klien dengan kelainan jantung yang menyebabkan banyak pembatasan aktivitas fisik
Gagal jantung sedang
IV
Klien dengan gagal jantung yang segala bentuk aktivitas fisiknya akan menyebabkan keluhan
Gagal jantung berat

               Untuk mengatasi potensi fluktuasi dalam klasifikasi pasien NYHA,
pada tahun 2001
American Collegeof Cardiology Foundation dan
American Heart Association
(AHA) menerbitkan empat komponen dalam menentukan stadium gagal jantung dimana perkembangan terjadi hanya dalam satu arah meliputi faktor risiko (Tahap A). Tahap B didefinisikan sebagai perkembangan penyakit jantung struktural dalam pasien yang gejala tidak pernah nyata atau tidak ada tanda-tanda gagal jantung. Pasien dengan diagnosis gagal jantung pada masa lalu atau saat ini dianggap Tahap C. Sekitar 1% dari pasien dengan gagal jantung pada tahap C mungkin berkembang kestadium akhir penyakit jantung (Tahap D). Klasifikasi ini terakhir diperbarui pada tahun 2013.

3.    Etiologi
Menurut Padila (2012), ada beberapa etiologi dari gagal jantung kongestif (CHF), yaitu :
a.    Kelainan Otot Jantung
Gagal jantung sering terjadi pada penderita kelainan otot jantung, disebabkan menurunnya kontraktilitas jantung. Kondisi yang mendasari penyebab kelainan fungsi otot jantung mencakup aterosklerosis koroner, hipertensi arterial dan penyakit degeneratif atau inflamasi.
b.    Aterosklerosis Koroner
          Aterosklerosis koroner mengakibatkan disfungsi miokardium karena terganggunya aliran darah ke otot jantung. Terjadi hipoksia dan asidosis (akibat penumpukan asam laktat). Infark Miokardium (kematian sel jantung) biasanya mendahului terjadinya gagal jantung. Peradangan dan penyakit miokardium degeneratif berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi yang secara langsung merusak serabut jantung menyebabkan kontraktilitas menurun.
c.    Hipertensi Sistemik Atau Pulmonal
          Hipertensi sistemik atau pulmonal (peningkatan after load) meningkatkan beban kerja jantung dan pada gilirannya mengakibatkan hipertrofi serabut otot jantung
d.   Peradangan Dan Penyakit Myocardium Degeneratif
          Peradangan dan penyakit myocardium degeneratif, berhubungan dengan gagal jantung karena kondisi ini secara langsung merusak serabut jantung, menyebabkan kontraktilitas menurun.
e.    Penyakit Jantung Lain
          Penyakit jantung lain, terjadi sebagai akibat penyakit jantung yang sebenarnya, yang secara langsung mempengaruhi jantung. Mekanisme biasanya terlibat mencakup gangguan aliran darah yang masuk jantung (stenosis katub semiluner), ketidakmampuan jantung untuk mengisi darah (tamponade, pericardium, perikarditif konstriktif atau stenosis AV), peningkatan mendadak after load).
f.     Faktor Sistemik
Terdapat sebagian besar faktor yang berperan dalam perkembangan dan beratnya gagal jantung. Meningkatnya laju metabolisme (misal : demam, tirotoksikosis). Hipoksia dan anemi juga dapat menurunkan suplai oksigen ke jantung. Asidosis respiratorik atau metabolik dan abnormalita elektronik dapat menurunkan kontraktilitas jantung
5.    Tanda dan Gejala
Tanda dominan : meningkatnya volum intravaskuler
Kongestif jaringan akibat tekanan arteri dan vena meningkat akibat penurunan curah jantung. Manifestasi kongestif berbeda tergantung pada kegagalan ventrikel mana yang terjadi.
Gagal jantung kiri :
Kongestif paru menonjol pada gagal ventrikel kiri karena ventrikel kiri tak mampu memompa darah yang datang dari paru. Manifestasi Klinis yang terjadi yaitu :
a.    Dispnea
b.    Batuk
c.    Mudah lelah
d.   Insomnia
e.    Kegelisahan atau kecemasan
Gagal jantung kanan :
a.    Kongestif jaringan visceral dan perifer
b.    Oedema ekstremitas bawah (oedema dependen), biasaya oedema pitting dan penambahan BB
c.    Hepatomegali dan nyeri tekan pada kuadran kanan atas abdomen terjadi akibat pembesaran vena hepar
d.   Anoreksia dan mual
e.    Nokturia
f.     Kelemahan (Padila, 2012)
Menurut Framingham seseorang dikatakan mengalami gagal jantung bila memiliki 2 kriteria mayor, atau 1 kriteria mayor dengan 2 kriteria minor, yaitu sebagai berikut :
Tabel 2
Kriteria Gagal Jantung (The 4 Stage Of Heart Failure, 2015)
Kriteria mayor
Kriteriaminor
Paroxysmal nocturnal dyspnea atau orthopnea
edema kedua kaki (Bilateral ankle edema)
distensi vena leher
sesak (dyspnea of effort)
Hepatomegali
Radiographic cardiomegaly
edema paru akut

peningkatan JVP




6.    Pemeriksaan Diagnostik
a.         Ekokardiografi
Ekokardiografi bersifat tidak invasif, dan segera dapat memberikan diagnosis disfungsi jantung serta informasi yang berkaitan dengan penyebabnya.
b.        Rontgen Dada
Foto sinar-X dada posterior dan anterior dapat menunjukkan adanya hipertensi vena, edema paru, atau kardiomegali.
c.         Elektrokardiografi
Pada pemeriksaan EKG untuk klien dengan gagal jantung dapat ditemukan kelainan EKG seperti left bundle branch block(kelainan ST/T menunjukkan disfungsi ventrikel kiri kronis, gelombang Q menunjukkan infark sebelumnya dan kelainan segmen ST, menunjukkan penyakit janntung iskemik, hipertrofi ventrikel kiri dan gelombang T terbalik menunjukkan stenosis aorta dan penyakit jantung hipertensi dan aritmia.

7.    Penatalaksanaan
Menurut Abraham (2011) secara teoritis ada beberapa tujuan dari pengobatan gagal jantung, yaitu :
a.    Untuk meningkatkan kontraktilitas miokard (inotropik
pengobatan) dan
relaksasi diastolik, untuk memastikan fungsi jantung oleh transplantasi atau alat bantu buatan
b.    Untuk mengoptimalkan preload dan after load
c.    Untuk mengatasi renovasi (dilatasi, hipertrofi, aneurisma, sphericization)
d.   Untuk mengatasi stimulasi simpatis berlebihan Kontraktilitas meningkat terutama pada gagal jantung akut dalam jangka pendek. Masih belum ada yang meyakinkan bukti bahwa obat benar-benar efektif untuk meningkatkan fungsi diastolik secara khusus. Berikut ini adalah strategi penatalaksanaan pada gagal jantung, yaitu :
Tabel 3
Penatalaksanaan Gagal Jantung (Cardiology Essentials In Clinical
Practice, 2011)
Strategi
Mekanisme
Perawatan
Gagal Jantung Akut
Gagal jantung kronis
Perubahan gaya hidup
Penurunan volume darah
Melakukan diet, latihan fisik dan pembatasan konsumsi garam dan cairan (pada gagal jantung berat
Ya
Ya
Penurunan kebutuhan metabolisme
Menurunkan berat badan apabila kelebihan berat badan
N/A
Ya
Mengoptimalkan penggunaan O2 dari jaringan
Latihan fisik
N/A
Ya
Suplemen bernutrisi
Co-enzim Q10
Tidak
Mungkin
Pengobatan
Penurunan Pre- dan Afterload
Vasodilators


ACEI, ARB
Tidak
Ya
Na nitropuside
Ya
Pada beberapa kondisi kegagalan/ syok
Nitrats
Ya
Ya
Pulmonary vasodilators
Tidak
Kerusakan ventrikel kanan
Penurunan preload
Diuretik
Ya
Ya
Furosemid
Ya
Ya
Metolazone
Tidak
Ya
Thiazides
Tidak
Ya
K-sparing diuretik
Tidak
Ya
Eplerenone
Tidak
Ya
Stimulasi kontraksi ventrikel kiri
Agen inotropik


Digitalis
Tidak
Ya
Agen IV adrenergik
Ya
Pada beberapa gagal jantung/ syok
Mencegah stimulasi saraf simpatik yang berlebih
β – Blockers
Tidak
Ya
Meningkatkan relaksasi ventrikel kiri
Calcium Blockers
Tidak
Mungkin
Mengganti kehilangan elektrolit
Supplemen
Ya
Ya
Penanganan komplikasi gagal jantung
AAD
Amiodarone
Pasien tertentu
Pasien tertentu
Antikoagulasi
Warfarin
Post-PCI
Jika AF atau LV trombus
Memastikandukunganpada
pasienterminal
Perawatan pasien terminal
Perawatan rumah sakit
Tidak
Ya

8.    Diet Gagal Jantung
a.    Prinsip Diet
Terapi gizi bagi pasien-pasien gagal jantung kongestif (dekompensasi jantung) harus berfokus pada keseimbangan status cairan dan elektrolit.
1)   Pemantauan status kalium jika pasien mendapatkan terapi diuretik : pada hipokalemia, kalium dapat diberikan dalam bentuk makanan yang banyak mengandung kalium seperti air kacang hijau atau suplemen kalium.
2)   Pembatasan asupan garam (natrium) hingga 2-3 g natriumperhari (konsumsi garam yang berlebihan dapat menyebabkan retensi cairan sehingga menambah berat gejalan edema yang biasa terjadi pada dekompensasi jantung). Diet rendah natrium merupakan kontraindikasi pada salt-depleting renal diseases seperti pielonefritis yang mengganggu fungsi tubulus ginjal dalam menyerap natrium.
3)   Penyesuaian pembatasan cairan dilakukan menurut :
a)    Respons pasien terhadap pengobatan
b)   Kepatuhan terhadap pembatasan natrium
c)    Intensitas/progresivitas penyakit
Pasien gagal jantung kongestif harus dianjurkan untuk membaca label pada kemasan makanan sehingga mengetahui adanya natrium yang tersembunyi dalam bentuk bahan-bahan aditif/ pengawet makanan. Obat-obatan juga dapat mengandung natrium dalam jumlah yang berarti (barbiturat, antibiotik, alkalizer lambung, dll) dan dengan demikian pasien harus berkonsultasi dengan dokter tentang kandungan natrium dalam obat-obat yang digunakannya.
b.    Prinsip Nutrisi
1)   Makanlah secara teratur dan jangan melupakan jam makan Anda
2)   Tinggalkan makanan /minuman yang diiklankan secara berlebihan sebagai suplemen penguat; harus menghindari jenis-jenis makanan yang tidak bergizi (junk food) dan kepercayaan yang keliru akan khasiat/ kejelekansuatu makanan (food faddism); pilihlah makanan berdasarkan pedoman empat sehat lima sempurna.
3)   Pilihlah hidratarang kompleks seperti nasi beras tumbuk/ merah, roti bekatul, havermut dengan sayuran dan protein hewani/nabati (daging tidak berlemak/kacang-kacangan) serta buah.
Makan dalam jumlah cukup untuk mempertahankan berat badan hindari perubahan berat badan yang drastis ( Andry,2006).

PENDAHULUAN GAGAL JANTUNG KONGESTIF


BAB I. PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Setiap tahunnya lebih dari 36 juta orang meninggal karena Penyakit Tidak Menular (PTM) (63% dari seluruh kematian). Lebih dari 9 juta kematian yang disebabkan oleh penyakit tidak menular terjadi sebelum usia 60 tahun, dan 90% dari kematian dini tersebut terjadi di negara berpenghasilan rendah dan menengah.
Secara global PTM penyebab kematian nomor satu setiap tahunnya adalah penyakit kardiovaskuler. Penyakit kardiovaskuler adalah penyakit yang disebabkan gangguan fungsi jantung dan pembuluh darah, seperti :Penyakit Jantung Koroner, Penyakit Gagal jantung atau Payah Jantung, Hipertensi dan Stroke. Pada tahun 2008 diperkirakan sebanyak 17,3 juta kematian disebabkan oleh penyakit kardiovaskuler atau Jantung (Pusat Data dan Informasi Kementrian Kesehatan RI,2013).
Jantung merupakan struktur kompleks yang terdiri atas jaringan fibrosa, otot-otot jantung dan jaringan konduksi listrik. Jantung mempunyai fungsi utama untuk memompakan darah. Hal ini dapat dilakukan dengan baik bila kemampuan otot jantung untuk memompakan cukup baik, sistem katup, serta irama pemompaan yang baik. Bila ditemukan ketidaknormalan pada salah satu di atas, maka akan memengaruhi efisiensi pemompaan dan kemungkinan dapat menyebabkan kegagalan memompa (Muttaqin, 2012).
Kegagalan jantung bekerja sebagai pompa akan menyebabkan proses aliran darah tidak lancar. Kegagalan kerja pompa jantung terlihat dengan jelas pada penyakit gagal jantung kongestif / Congestive Heart Failure (CHF) (Ronny,2009).
Gagal jantung kongestif adalah ketidakmampuan jantung untuk memompa darah dalam jumlah yang cukup untuk memenuhi kebutuhan jaringan terhadap oksigen dan nutrient dikarenakan adanya kelainan fungsi jantung yang berakibat jantung gagal memompa darah untuk memenuhi kebutuhan metabolisme jaringan dan atau kemampuannya hanya ada kalau disertai peninggian tekanan pengisian ventrikel kiri  (Smeltzer & Bare,2001).
Gagal jantung kongestif adalah kondisi progresif kronis di mana jantung tidak dapat memompa cukup darah untuk memenuhi kebutuhan tubuh. Ini salah satu penyakit jantung yang paling umum terjadi di Amerika Serikat (AHA,2015).
Di Amerika Serikat kejadian tahunan Gagal jantung meningkat dari 250.000 kasus pada tahun 1970 menjadi 825.000 kasus pada tahun 2010, memberikan kontribusi untuk prevalensi 5,1 juta orang yang berusia > 20 tahun. Risiko untuk mendapatkan gagal jantung terjadi pada usia sekitar  40 tahun dan lebih banyak terjadi pada pria dari pada wanita  dengan perbandingan 1 : 5 (Jaski, 2015).
Sekarang lebih dari 870.000 kasus baru dilaporkan setiap tahunnya. Sekitar setengah dari semua orang meninggal dalam waktu lima tahun setelah didiagnosis. Jumlah orang yang didiagnosis dengan gagal jantung diperkirakan meningkat dari sekitar 6 juta menjadi hampir 8 juta pada 2030 (AHA,2015).
Jumlah penderita Gagal jantung terus meningkat, terutama sebagai penyakit penuaan. Prevalensi juga bervariasi oleh ras dan etnis. Setelah usia 20, prevalensi gagal jantung sekitar dua kali lipat dalam  setiap dekade kehidupan. Pada tahun 2010, diperkirakan 5,1 juta orang  Amerika yang berusia 20 tahun mengidap gagal jantung. Berdasarkan komunitas cross sectional studi, 10% orang yang berusia lebih dari 80 tahun memiliki gagal jantung. Pada mereka dengan gagal jantung, 88% terjadi pada usia lebih dari 65 tahun, dan 49% dari mereka adalah yang  lebih tua dari 80 tahun. Selain itu prevalensi gagal jantung juga dipengaruhi oleh perbedaan etnis atau warna kulit. Kulit hitam yang paling terpengaruh dan memiliki kenaikan diperkirakan selama 20 tahun ke depan, dari 2,8% menjadi 3,6%. Peningkatan prevalensi etnis tertentu dikaitkan dengan insiden yang lebih tinggi terhadap terjadinya hipertensi, obesitas, dan diabetes (Jaski, 2015).
Di Amerika Serikat pada 2010, gagal jantung meyumbangkan  57.757 angka kematian dari 279.098 kasus, gagal jantung adalah  penyebab utama dari kematian (Jaski, 2015).
Gagal jantung mencapai titik kritis karena peningkatan jumlah yang sangat signifikan. Penyebab paling umum dari terjadinya gagal jantung selama ini adalah penyakit jantung koroner, tekanan darah tinggi dan diabetes (AHA, 2015).
Di Indonesia belum ada data epidemiologi untuk gagal jantung, Namun penyakit jantung dan pembuluh darah ini terus meningkat dan akan memberikan beban kesakitan, kecacatan dan beban sosial ekonomi bagi keluarga penderita, masyarakat, dan negara. Adapun prevalensi penyakit gagal jantung di Indonesia tahun 2013 berdasarkan diagnosis dokter sebesar 0.13% ( Kementrian Kesehatan RI, 2014).
Berdasarkan data yang diperoleh dari RSU Santo Vincentius tercatat  sebanyak 230 kasus Gagal Jantung Kongestif di rawat di RSU Santo Vincentius selama tahun 2015, dan data terakhir dari jumlah kasus pada tahun 2016 ditemukan 241 kasus, 2017 ditemukan 253 yang di rawat inap di RSU Santo Vincentius. Jumlah kasus Gagal Jantung Kongestif ini menunjukkan angka yang tinggi setiap tahunnya. Setelah itu angka penderita gagal jantung pada tahun 2015 cenderung menurun namun masih tergolong dalam 3 besar penyakit yang di rawat inap di RSU Santo Vincentius. (Rekam medik RSU Santo Vincentius, 2017).
 Berbagai upaya telah dilakukan pemerintah untuk menurunkan angka kematian dan kesakitan akibat gagal jantung, termasuk meningkatkan asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif ini. Asuhan keperawatan akan dilakukan melalui pendekatan dari proses keperawatan yang terdiri dari pengkajian, diagnosa keperawatan, intervensi, implementasi dan evaluasi. Adapun tindakan keperawatan yang dilakukan pada pasien dengan gagal jantung dimulai dari pengkajian yang merupakan langkah awal dalam asuhan keperawatan yaitu pengumpulan data yang dapat dilakukan dengan cara wawancara, observasi, pemeriksaan fisik, dan pengambilan data laboratorium.

Menurut Padila (2012) keluhan yang paling sering menjadi alasan klien untuk meminta pertolongan kesehatan adalah : dispnea, kelemahan fisik, dan edema sistemik. Setelah dilakukan pengkajian, maka dilakukan analisis terhadap data yang dikumpulkan selama pengkajian untuk menegakan diagnosa keperawatan. Kemudian dari hasil analisa tersebut seorang perawat akan menarik diagnosa. Adapun diagnosa keperawatan yang mungkin muncul pada pasien dengan gagal jantung adalah nyeri dada akut berhubungan dengan kurangnya suplai darah ke miokardium, gangguan pertukaran gas berhubungan dengan edema pada paru (perubahan membran kapiler-alveolar), intoleransi aktivitas berhubungan dengan kelelahan atau dispnea akibat turunnya curah jantung, ketidak efektifan pola nafas berhubungan dengan keletihan otot-otot pernapasan, disfungsi neuromuskular, sindrom hipoventilasi, ketidakefektifan bersihan jalan napas, ansietas berhubungan dengan kesulitan bernapas dan kegelisahan akibat oksigenasi yang tidak adekuat, risiko penurunan perfusi jaringan jantung, kelebihan volume cairan, kerusakan integritas kulit, ketidakseimbangan nutrisi kurang dari kebutuhan tubuh dan defisit perawatan diri (Hardhi, Amin. 2013 NANDA).
Manusia bersifat unik maka respon yang muncul pada pasien gagal jantung juga akan berbeda-beda pula. Tidak menutup kemungkinan setiap pasien akan memiliki diagnosa keperawatan yang berbeda tergantung dengan hasil pengkajian yang telah dilakukan. Setelah itu, perawat akan merencanakan tindakan yang akan dilakukan oleh perawat, mulai dari tindakan mandiri perawat hingga tindakan kolaborasi perawat dengan tenaga medis lainnya. Perbedaan diagnosa keperawatan pada setiap pasien menyebabkan  pemberian tindakan keperawatan antara satu pasien dengan yang lain pun berbeda tergantung pada kondisi pasien dan hasil dari pengkajian yang telah dilakukan.
Rencana tindakan keperawatan dibuat untuk mengatasi masalah dan meningkatkan kesehatan pasien. Rencana keperawatan dilakukan berdasarkan masalah yang kita dapatkan pada tahap pengkajian dan diagnosa. Misalnya, pada masalah nyeri dada akut berhubungan dengan kurangnya suplai darah ke miokardium, intervensi yang dibuat berupa lakukan pengkajian nyeri yang komprehensif meliputi lokasi, karakteristik, awitan dan durasi, frekuensi, kualitas, intensitas atau keparahan nyeri dan faktor presipitasinya, observasi isyarat nonverbal ketidaknyamanan, khususnya pada mereka yang tidak mampu berkomunikasi efektif, minta klien untuk melaporkan nyeri (skala 0-10) atau ketidaknyamanan dengan segera, bantu klien untuk mengatur posisi fisiologis, istirahatkan klien, lakukan masase punggung dan relaksasi, berikan informasi tentang nyeri, seperti penyebab nyeri, berapa lama akan berlangsung dan antisipasi ketidaknyamanan akibat prosedur, ajarkan teknik relaksasi pernapasan dalam, ajarkan teknik distraksi (pengalihan perhatian ) pada saat nyeri, kendalikan faktor lingkungan yang dapat memengaruhi respon pasien terhadap ketidaknyamanan (misalnya suhu ruangan, penncahayaan, kegaduhan dan jumlah pengunjung), kolaborasi mengenai pemberian antiagina pada klien, serta berkolaborasi mengenai pemberian analgesik dengan dokter (Hardhi, Amin. 2013 NANDA).
Setelah membuat perencanaan, maka selanjutnya implementasi. Implementasi adalah tindakan dari perencanaan yang telah dibuat. Dan selanjutnya adalah mengevaluasi kemajuan pasien terhadap tindakan dan pencapaian tujuan dari tindakan keperawatan. Evaluasi merupakan tahap akhir dari proses keperawatan untuk mengukur tingkat keberhasilan asuhan keperawatan yang telah diberikan. Dalam melakukan evaluasi dapat menggunakan metode SOAP (subjektif, objektif, analisis, planning) sehingga dapat diketahui masalah yang teratasi dan masalah yang belum teratasi serta yang terjadi dan belum terjadi. Pendekatan proses keperawatan yang ada pada pasien gagal jantung kongestif diharapkan dapat memberikan asuhan keperawatan yang tepat dan benar bagi penderitanya sehingga dapat mengurangi angka kesakitan, kecacatan  serta kematian akibat gagal jantung kongestif.
Alasan peneliti memilih studi kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif adalah karena banyaknya angka penderita gagal jantung kogestif baik di dunia, Indonesia, kemudian di RSU Santo Vincentius itu sendiri. Pada tahun 2015 penderita gagl jantung kongestif menjadi kasus paling banyak di RSU Santo Vincentius tetapi, Pada tahun 2016, angka penderita gagal jantung kongestif mengalami kenaikan pada jumlah tetapi pada tahun 2017 mendapat urutan ke-2 setelah penyakit Dyspepsia.
Berdasarkan uraian data di atas penulis merasa tertarik untuk melakukan studi kasus asuhan keperawatan pada pasien dengan gagal jantung kongestif di Ruang Penyakit Dalam St Lukas di RSU Santo Vincentius.

B.  Rumusan Masalah
Bagaimanakah asuhan keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius pada tahun 2018 ?

C.  Tujuan Penelitian
1.      Tujuan Umum
Mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius tahun 2018

2.      Tujuan Khusus
a.         Mengetahui pengkajian keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius tahun 2018
b.         Mengetahui diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius tahun 2018
c.         Mengetahui intervensi keperawatan yang efektif pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius tahun 2018.
d.        Mengetahui implementasi asuhan keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius tahun 2018
e.         Mengetahui hasil evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif di Rumah Sakit Santo Vincentius tahun 2018

D.  Manfaat Penelitian
1.      Bagi Instansi Terkait
Sebagai tambahan informasi tentang asuhan keperawatan pasien dengan Gagal Jantung Kongestif dan bahan pertimbangan bagi instansi terkait untuk memperbaiki upaya penanganan Gagal Jantung Kongestif, sehingga dapat mengurangi angka kesakitan dan kematian pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif.

2.      Bagi Institusi Jurusan Keperawatan Singkawang
Bagi institusi pendidikan studi kasus ini dapat menjadi sumber data, informasi, atau bahan rujukan untuk kegiatan pendidikan kesehatan mahasiswa/i seperti dalam pembuatan leaflet tentang pasien dengan Gagal Jantung Kongestif.

3.      Bagi Masyarakat
Menambah informasi dan pengetahuan tentang asuhan keperawatan pada pasien dengan Gagal Jantung Kongestif dengan memanfaatkan teknologi yang telah berkembang yaitu dengan mempublikasikan hasil penelitian ini di beberapa media sosial yang mudah di akses masyarakat, sehingga masyarakat bisa mengetahui apa itu gagal jantung kongestif, pencegahan maupun pengobatannya.

4.      Bagi Peneliti
            Menambah pengetahuan, wawasan dan memberi pengalaman langsung dalam mengaplikasikan ilmu pengetahuan yang dimiliki.


Entri yang Diunggulkan

Margin Saham: Pengertian, Risiko, dan Saham yang Menarik untuk Dipertimbangkan

Mengenal Margin Saham Dalam dunia investasi saham, istilah margin sering kali menjadi topik yang menarik karena menawarkan peluang memperole...