Minggu, 15 September 2013

Pembantaian Burung Tingang (Enggang)


SUNGAI RAYA, KOMPAS - Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan meminta dukungan banyak pihak untuk mencegah berulangnya pembantaian burung enggang, burung endemik Kalimantan Barat. Paruh burung itu diselundupkan ke luar negeri.

”Kenapa di luar negeri paruh burung enggang itu laku sekali sehingga memicu perburuan di Indonesia? Ini tak bisa dibiarkan dan harus ada keterlibatan berbagai pihak,” kata Zulkifli, seusai peresmian program Muhammadiyah Kalimantan Barat Menanam Pohon, di Kabupaten Kubu Raya, Selasa (29/1).

Sepanjang 2012, pembantaian burung enggang marak di Kalbar. Sebagian habitat enggang ada di luar kawasan lindung sehingga pengawasan lemah.
Keterlibatan sejumlah pihak di luar Kementerian Kehutanan, lanjut Zulkifli, penting agar persoalan itu bisa diselesaikan lintas sektor. ”Dukungan banyak pihak sangat penting karena kami tak bisa sendirian,” ujarnya.

Gambar Paruh Engang
Anggota Kalimantan Birding Club, Firdaus, menjelaskan, perburuan burung enggang terakhir kali diketahui akhir 2012. Ketika itu, tim Ekspedisi Uud Danum menemukan perburuan 14 enggang di Kecamatan Ambalau, Kabupaten Sintang.

Menurut dia, paruh dan batok kepala burung enggang bernilai Rp 4 juta per buah di luar negeri. ”Tiga tahun lalu harganya Rp 800.000 per buah. Semakin sulit diperoleh, harganya makin mahal. Kami khawatir, tanpa upaya serius pemerintah, burung enggang simbol Kalbar suatu saat tinggal nama,” kata Firdaus.[2]

Keperdulian kita terhadap lingkungan semakin diperlukan segera dan mendesak mengingat keselarasan alam telah kian memudar dengan adanya nafsu-nafsu jahat dalam diri manusia. Kalau tidak melakukan keperdulian sekarang kapan lagi. Rumah (hutan) burung tinggang sudah berubah fungsi menjadi perkebunan sawit skala besar, kemana mereka akan berdiam jika diluar mereka diburu, Save to : Burung Tinnggang (Enggang).

Keanekaragaman Burung Rangkong (Enggang) Indonesia


Keanekaragaman burung Rangkong atau Enggang di Indonesia sangat tinggi di bandingkan negara lain. Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki jenis burung Rangkong. Dari 57 spesies burung Rangkong yang terdapat di seluruh dunia, 14 diantaranya terdapat di Indonesia. Keanekaragaman burung Rangkong itu makin terasa lantaran tiga jenis diantaranya merupakan endemik Indonesia yang tidak terdapat di negara lain.
Burung Rangkong dikenal juga sebagai Julang, Enggang, dan Kangkareng atau bahasa Inggris disebut Horbbill merupakan nama burung yang tergabung dalam suku Bucerotidae. Burung Rangkong atau Enggang mempunyai ciri khas pada paruhnya yang mempunyai bentuk menyerupai tanduk sapi. Nama ilmiahnya, “Bucerotidae” mempunyai arti “tanduk sapi” dalam bahasa Yunani.
Kenekaragaman Rangkong Di Indonesia. Burung Rangkong atau Enggang (Hornbill) terdiri atas 57 spesies yang tersebar di Asia dan Arika. 14 jenis diantaranya terdapat di Indonesia. Bahkan 3 diantaranya merupakan Rangkong endemik Indonesia.
Ketiga Rangkong atau Enggang endemik Indonesia adalah:
  • Rangkong Sulawesi atau Julang Sulawesi Ekor Hitam (Rhyticeros Cassidix); Rangkong ini merupakan satwa endemik pulau Sulawesi dan sekaligus menjadi fauna identitas Sulawesi Selatan). Satwa yang nama ilmiahnya bersinonim dengan Aceros cassidix ini oleh masyarakat setempat disebut juga sebagai Rangkong Buton, Burung Taonn, Burung Alo.
  • Julang Sulawesi Ekor Putih atau Kangkareng Sulawesi (Penelopides exarhatus); Julang Sulawesi Ekor Putih merupakan endemik pulau Sulawesi
  • Julang Sumba (Rhyticeros averitti). Julang Sumba merupakan satwa endemik Sumba, Nusa Tenggara Barat. Selain disebut Julang Sumba burung ini juga disebut Goanggali, Nggokgokka, atau Rangkong Sumba.
Selain ketiga Rangkong endemik yang terdapat di Sulawesi dan Sumba tersebut masih terdapat jenis-jenis Rangkong lainnya yang tersebar di Papua, Kalimantan, dan Sumatera. Jenis-jenis itu diantaranya: rangkong
  • Kangkareng Perut-putih atau Burung Kelingking (Anthracoceros albirostris)
  • Kangkareng Hitam atau Enggang Gatal Birah atau Burung Kekek (Anthracoceros malayanus)
  • Enggang Cula atau Rangkong Badak atau Burung Tahun-tahun (Buceros rhinoceros)
  • Enggang Papan atau Rangkong Papan (Buceros bicornis)
  • Enggang Gading atau Rangkong Gading atau Enggang Terbang Mentua (Rhinoplax vigil)
  • Enggang Klihingan atau Enggang Konde atau Julang Jambul Abu-abu atau Burung Arau atau Burung Belukar (Anorrhinus galeritus)
  • Enggang Jambul atau Enggang Jambul Putih (Berenicornis comatus)
  • Julang Jambul Hitam atau Enggang Berkedut (Aceros corrugatus)
  • Julang Emas atau Julang Mas atau Enggang Musim atau Enggang Gunung (Rhyticeros undulatus)
  • Rangkong Dompet (Rhyticeros subruficollis)
  • Rangkong Dompet (Rhyticeros plicatus)
Enggang Gading atau Enggang Terbang Mentua (Rhinoplax vigil) merupakan satwa yang dijadikan maskot (fauna identitas) Kalimantan Barat. Sedangkan Rangkong Papan (Buceros bicornis) merupakan jenis Rangkong yang paling besar yang memiliki panjang tubuh mencapai 160 cm.
Mengenal Burung Rangkong. Secara umum burung Rangkong atau Enggang mempunyai ciri khas berupa paruh yang sangat besar menyerupai tanduk. Di Indonesia, ukuran tubuh Rangkong sekitar 40 – 150 cm, dengan rangkong terberat mencapai 3.6 Kilogram. Umumnya warna bulu Rangkong didominasi oleh warna hitam (bagian badan) dan putih pada bagian ekor. Sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi.
Ciri khas burung rangkong lainnya adalah suara dari kepakan sayap dan suara “calling”, seperti yang dipunyai Rangkong Gading (Buceros vigil) dengan “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar hingga radius 3 Km.
Burung Rangkong tersebar mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon Sebagian besar hidup di hutan hujan tropis. Rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah dan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Makanan Rangkong terutama buah-buahan dan sesekali binatang2 kecil seperti kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga.
Keanekaragaman burung Rangkong atau Enggang di Indonesia ini merupakan sebuah kebanggaan. Sayangnya makin hari populasi Rangkong di Indonesia makin menurun. Hal ini disebabkan oleh berkurangnya kawasan (habitat) sebagai akibat deforestasi hutan, berkurangnya makanan dan tempat bersarang, dan perburuan Rangkong.

Burung Enggang atau Burung Rangkong


Burung Enggang atau Burung Rangkong (bahasa Inggris: Hornbill) adalah sejenis burung yang mempunyai paruh berbentuk tanduk sapi tetapi tanpa lingkaran. Biasanya paruhnya itu berwarna terang. Nama ilmiahnya “Buceros” merujuk pada bentuk paruh, dan memiliki arti “tanduk sapi” dalam Bahasa Yunani.
Burung Enggang tergolong dalam kelompok Bucerotidae yang termasuk 57 spesies. Sembilan spesies daripadanya berasal endemik di bagian selatan Afrika. Makanannya terutama buah-buahan juga kadal, kelelawar, tikus, ular dan berbagai jenis serangga.
Ciri-ciri
Ketika waktunya mengeram, enggang betina bertelur sampai enam biji telur putih terkurung di dalam kurungan sarang, dibuat antara lain dari kotoran dan kulit buah. Hanya terdapat satu bukaan kecil yang cukup untuk burung jantan mengulurkan makanan kepada anak burung dan burung enggang betina.
Apabila anak burung dan burung betina tidak lagi muat dalam sarang, burung betina akan memecahkan sarang untuk keluar dan membangun lagi dinding tersebut, dan kedua burung dewasa akan mencari makanan bagi anak-anak burung. Dalam sebagian spesies, anak-anak burung itu sendiri membangun kembali dinding yang pecah itu tanpa bantuan burung dewasa.
Morfologi Umum
Burung enggang, julang, burung tahun atau kangkareng merupakan sebutan lain dari burung rangkong (Hornbill) yang kita kenal di Indonesia.  Burung rangkong merupakan kelompok burung yang mudah dikenali karena memiliki ciri khas berupa paruh yang besar dengan struktur tambahan di bagian atasnya yang disebut balung (casque). Di Indonesia, ukuran tubuh rangkong berkisar antar 40 cm sampai 150 cm, dengan rangkong terberat mencapai 3.6 Kilogram.  Umumnya warna bulu di dominasi oleh warna hitam untuk bagian badan dan putih bagian ekor, sedangkan warna bagian leher dan kepala cukup bervariasi. Ciri khas burung rangkong lainnya adalah suara dari kepakan sayap dan suara “calling”, contohnya untuk Rangkong Gading (Rhinoplax vigil) mempunyai suara “calling” seperti orang tertawa terbahak-bahak dan dapat terdengar dari jarak 3 Km. Karakter unik di atas dapat dipergunakan sebagai identifikasi di lapangan untuk setiap jenis burung rangkong.
Persebaran dan Habitat
Di seluruh dunia terdapat 54 jenis burung rangkong. Burung rangkong mempunyai sebaran mulai dari daerah sub-sahara Afrika, India, Asia Tenggara, New Guinea dan Kepulauan Solomon Sebagian besar hidup di hutan hujan tropis dan hanya beberapa jenis saja yang hidup di daerah kering seperti di Afrika. Indonesia merupakan rumah bagi 13 jenis burung rangkong yang tersebar di hutan hujan tropis, tiga diantaranya bersifat endemik. Mayoritas, rangkong banyak ditemukan di daerah hutan dataran rendah hutan perbukitan (0 – 1000 m dpl). Di daerah pegunungan (> 1000 m dpl) rangkong sudah mulai jarang ditemukan. Pulau Sumatera menempati jumlah terbanyak dengan 9 jenis, di susul dengan Kalimantan dengan 8 jenis. Dengan banyaknya jenis burung rangkong di Indonesia menjadikan daerah penting untuk konservasi burung rangkong di dunia.
Perilaku Makan
Burung rangkong yang hidup di hutan hujan tropis umumnya bersifat frugivorous. Buah beringin (Ficus spp) yang berbuah sepanjang tahun di hutan tropis Indonesia merupakan makanan yang sangat penting bagi burung rangkong (Kemp 1995, Hadiprakarsa, 2001). Selain buah beringin, jenis buah-buahan lainnya juga di konsumsi oleh burung rangkong seperti buah pala hutan (Myristicaceae) yang kaya akan protein dan lipid, kenari-kenarian (Burseraceae). Selain makanan berupa buah-buahan, burung rangkong juga memakan invertebrata dan vertebrata kecil. Selain untuk memenuhi kebutuhannya seperti saat perkembangbiakan, makanan berupa invertebrata dan vertebatra kecil juga di konsumsi sebagai makanan pengganti di saat ketersediaan buah mulai menipis. Di dukung oleh postur tubuh yang memungkinkan burung rangkong terbang cukup jauh (200-1200 m/jam,) dan kapasitas perut yang cukup besar, burung rangkong dapat memencarkan biji hampir di seluruh bagian hutan tropis sehingga dapat menjaga dinamika hutan.
Reproduksi
Sebagian besar burung rangkong Indonesia hidup secara berpasangan (monogamous), hanya 3 jenis yang hidup secara berkelompok. Selama masa perkembangbiakan semua jenis burung rangkong yang hidup di hutan tropis bersarang di pohon berlubang yang terbentuk secara alami. Berdasarkan hasil penelitian pohon berlubang yang tersedia di alam mempunyai diameter pohon lebih besar dari 45 cm. Pada saat bersarang rangkong betina akan masuk kedalam lubang yang kemudian ditutup oleh lumpur dan kotorannya—hanya menyisakan sedikit celah untuk mengambil makanan dari rangkong jantan atau anggota kelompoknya dengan menggunakan paruh. Setiap jenis burung rangkong mempunyai daur perkembangbiakan yang berbeda, hal ini dipengaruhi oleh ketersediaan makanan, musim hujan dan pohon berlubang di dalam habitatnya. (Kemp, 1995). Setelah bersarang, selama 4-6 hari rangkong betina akan mengeluarkan telur yang berjumlah antara dua (untuk rangkong berukuran besar) sampai delapan butir telur (untuk rangkong berukuran kecil). Setelah telur menetas rangkong betina akan mengerami telurnya (inkubasi) mulai dari 23 sampai 42 hari tergantung dari jenisnya.
Konservasi
Seluruh jenis rangkong di Indonesia di lindungi oleh pemerintah yang di tuangkan dalam Peraturan Pemerintah No. 7 Tahun 1999. Berdasarkan IUCN, 5 jenis rangkong Indonesia berstatus terancam dan satu jenis bersifat mendekati kepunahan. Ancaman utama burung rangkong adalah hilangnya kawasan hutan dimana mereka tinggal. Selain tekanan terhadap habitatnya, burung rangkong juga mendapatkan ancaman lainnya seperti perburuan liar untuk diperdagangkan sebagai binatang peliharaan, dan sebagai hiasan rumah. Bahkan balung dari Rangkong gading (Rhinoplax vigil) telah di export ke China di jaman dinasti Ming sebagai symbol keburuntungan. Di Indonesia ancaman berupa perburuan tidak banyak diketahui jumlahnya, tapi di yakini burung ini merupakan salah satu target perburuan untuk konsumsi maupun peliharaan.

PERKEMBANGAN MASA BAYI SAMPAI ANAK-ANAK

TUGAS-TUGAS PERKEMBANGAN

Menurut  Havighurst,  tugas  perkembangan  adalah  tugas-tugas  yang  harus  diselesaikan
individu  pada  fase-fase  atau  periode  kehidupan    tertentu;  dan  apabila  berhasil  mencapainya
mereka  akan  berbahagia,  tetapi  sebaliknya  apabila  mereka  gagal  akan  kecewa  dan  dicela  orang
tua atau masyarakat dan perkembangan selanjutnya juga akan mengalami kesulitan.
Adapun  yang  menjadi  sumber  dari  pada  tugas-tugas  perkembangan  tersebut  menurut
Havighurst  adalah:  Kematangan  pisik,  tuntutan  masyarakat  atau  budaya  dan  nilai-nilai  dan
aspirasi  individu.  Pembagian  tugas-tugas  perkembangan  untuk  masing-masing  fase  dari  sejak
masa bayi sampai usia lanjut dikemukakan oleh Havighurst sebagai berikut:
1.  Masa bayi dan anak-anak
  Belajar berjalan
  Belajar mekan makanan padat
  Belajar berbicara
  Belajar mengendalikan pembuangan kotoran tubuh
  Mencapai stabilitas fisiologik 
  Membentuk pengertian sederhana tentang realitas fisik dan sosial
  Belajar kontak perasaan dengan orang tua, keluarga, dan orang lain
  Belajar mengetahui mana yang benar dan yang salah serta mengembangkan kata hati
2.  Masa Anak Sekolah
  Belajar ketangkasan fisik untuk bermain
  Pembentukan  sikap  yang  sehat  terhadap  diri  sendiri    sebagai  organism  yang  sedang
tumbuh
  Belajar bergaul yang bersahabat dengan anak-anak sebaya
  Belajar peranan jenis kelamin
  Mengembangkan dasar-dasar kecakapan membaca, menulis, dan berhitung
  Mengembangkan  pengertian-pengertian  yang  diperlukan  guna  keperluan  kehidupan
sehari-hari 
  Mengembangkan kata hati moralitas dan skala nilai-nilai
  Belajar membebaskan ketergantungan diri
  Mengembangkan sikap sehat terhadap kelompok dan lembga-lembaga
3.  Masa Remaja
  Menerima keadaan jasmaniah dan menggunakannya secara efektif
  Menerima peranan sosial jenis kelamin sebagai pria/wanita
  Menginginkan dan mencapai perilaku social yang bertanggung jawab social
  Mencapai kemandirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya
  Belajar bergaul dengan kelompok anak-anak wanita dan anak-anak laki-laki
  Perkembangan skala nilai
  Secara sadar mengembangkan gambaran dunia yang lebih adekwat
  Persiapan mandiri secara ekonomi
  Pemilihan dan latihan jabatan
  Mempersiapkan perkawinan dan keluarga 
4.  Masa Dewasa Awal
  Mulai bekerja
  Memilih pasangan hidup
  Belajar hidup dengan suami/istri
  Mulai membentuk keluarga
  Mengasuh anak
  Mengelola/mengemudikan rumah tangga
  Menerima/mengambil tanggung jawab warga Negara
  Menemukan kelompok sosial yang menyenangkan 
5.  Masa Usia Madya/Masa Dewasa Madya
  Menerima dan menyesuaikan diri terhadap perubahan fisik dan fisiologis
  Menghubungkan diri sendiri dengan pasangan hidup sebagai individu
  Membantu anak-anak remaja belajar menjadi orang dewasa yang bertanggung jawab dan
berbahagia
  Mencapai dan mempertahankan prestasi yang memuaskan dalam karir pekerjaan
  Mengembangkan kegiatan-kegiatan pengisi waktu senggang yang dewasa
  Mencapai tanggung jawab sosial dan warga Negara secara penuh.

Robert  J.  Havighurst  (1961)  mengartikan  tugas  –  tugas  perkembangan  itu  merupakan
suatu  hal  yang  muncul  pada  periode  tertentu  dalam  rentang  kehidupan  individu  yang  apabila
berhasil  dituntaskan  akan  membawa  kebahagiaan  dan  kesuksesan  ke  tugas  perkembangan
selanjutnya  tapi  jika  gagal  akan  menyebabkan  ketidakbahagiaan  pada  individu  yang
bersangkutan dan kesulitan – kesulitan dalam menuntaskan tugas berikutnya.
Hurlock  (1981)  menyebut  tugas  –  tugas  perkembangan  ini  sebagai  social  expectations
yang  artinya  setiap  kelompok  budaya  mengharapkan  anggotanya  menguasai  keterampilan
tertentu yang penting dan memperoleh pola perilaku yang disetujui oleh berbagai usia sepanjang
rentang kehidupan.
Faktor sumber munculnya tugas – tugas perkembangan :
1.  Adanya kematangan fisik tertentu pada fase perkembangan tertentu
2.  Tuntutan masyarakat secara kultural : membaca, menulis, berhitung, dan organisasi
3.  Tuntutan  dari  dorongan  dan  cita  –  cita  individu  sendiri  (psikologis)  yang  sedang
berkembang itu sendiri : memilih teman dan pekerjaan
4.  Tuntutan norma agama 

Adapun  tugas  –  tugas  perkembangan  pada  setiap  fase  perkembangan  (Robert  J.  Havighurst
(Monks, et al., 1984, syah, 1995; Andrissen, 1974; Havighurst, 1976) ) sebagai berikut :
1.  Tugas – tugas perkembangan pada usia bayi dan kanak – kanak (0 – 6 tahun)
a.  Belajar berjalan. 
b.  Belajar memakan makanan padat. 
c.  Belajar berbicara.
d.  Belajar buang air kecil dan buang air besar.
e.  Belajar mengenal perbedaan jenis kelamin. 
f.  Mencapai kestabilan jasmaniah fisiologis.
g.  Membentuk konsep – konsep (pengertian) sederhana kenyataan sosial dan alam. 
h.  Belajar mengadakan hubungan emosional dengan orang – orang disekitarnya.
i.  Belajar  mengadakan  hubungan  baik  dan  buruk,  yang  berarti  mengembangkan  kata
hati. 

Menurut beberapa ahli psikologi lainnya tentang tugas perkembangan disetiap fase – fase
perkembangan 0 – 6 tahun :
1.  Charlotte Buhler (1930) dalam bukunya yang berjudul The first tear of life :
a.  Fase pertama (0 – 1 tahun)
Belajar  menghayati  berbagai  objek  diluar  diri  sendiri,  melatih  fungsi  –  fungsi
motorik.
b.  Fase kedua (2 – 4 tahun)
Belajar  mengenal  dunia  objektif  diluar  diri  sendiri,  disertai  dengan  penghayatan
yang  bersifat  subjektif.  Misalnya  anak  bercakap  –  cakap  dengan  bonekanya  atau
berbincang – bincang dan bergurau dengan binatang kesayangannya.
c.  Fase ketiga ( > 5 tahun)
Belajar bersosialisasi. Anak mulai  memasuki masyarakat luas (pergaulan  dengan
teman sepermainan (TK) dan sekolah dasar. Menurut Soe’oed (dalam Ihromi, ed.,
1999 : 30) syarat penting untuk berlangsungnya proses sosialisasi adalah interaksi
sosial.  A.  Gosin  (Soe’oed,  dalam  Ihromi,  ed.,  1999  :  30)  :  sosialisasi  adalah
proses  belajar  yang  dialami  oleh  seseorang  untuk  memperoleh  pengetahuan,
keterampilan, nilai – nilai dan norma – norma agar dia bisa berpartisipasi sebagai
anggota dalam masyarakatnya.

2.  Elizabeth B. Hurlock (1978) dalam bukunya Developmental Psychology :
a.  Prenatal, yaitu masa konsepsi anak sampai umur 9 bulan dikandungan ibu.
b.  Masa natal :
1.)  Infancy  atau  neonatus  (dari  lahir  sampi  usia  14  hari),  penyesuaian  terhadap
lingkungan
2.)  Masa  bayi  (2  minggu  sampai  2  tahun),  bayi  tidak  berdaya  dan  sangat
tergantung pada lingkungan dan kemudian (karena perkembangan) anak mulai
berusaha menjadi lebih independen.
3.)  Masa anak ( > 2 tahun)
Anak  belajar  menyesuaikan  diri  dengan  lingkungan,  sehingga  dia  merasa
bahwa dirinya merupakan bagian dari lingkungan yang ada.

3.  Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society :
a.  Masa bayi (0 – 1,5 tahun), anak belajar bahwa dunia merupakan tempat yang baik
baginya,  dan  ia  belajar  menjadi  optimis  mengenai  kemungkinan  –  kemungkinan
mencapai kepuasan.
b.  Masa Toddler (1,5 – 3 tahun)
Anak belajar menggunakan kemampuan bergerak sendiri untuk melaksanakan dua
ugas penting, yakni pemisahan diri dari ibu dan mulai menguasai diri, lingkungan,
dan keterampilan dasar untuk hidup.
c.  Awal masa kanak – kanak ( > 4 tahun)
Anak  belajar  mencontoh  orang  tuanya,  pusat  perhatian  anak  berubah  dari  benda
ke orang.

2.  Tugas – tugas perkembangan pada masa sekolah (6 – 12 tahun)
Menurut  Robert  J.  Havighurst  (Monks,  et  al.,  1984,  syah,  1995;  Andrissen,  1974;
Havighurst, 1976) tugas – tugas perkembangan masa ini adalah :
a.  Belajar memperoleh keterampilan fisik untuk melakukan permainan : bermain sepak
bola, loncat tali, berenang. 
b.  Belajar  membentuk  sikap  yang  sehat  terhadap  dirinya  sendiri  sebagai  makhluk
biologis.
c.  Belajar bergaul dengan teman – teman sebaya. 
d.  Belajar memainkan peranan sesuai dengan jenis kelaminnya.
e.  Belajar keterampilan dasar dalam membaca, menulis, dan berhitung
f.  Belajar mengembangkan konsep sehari – hari.
g.  Mengembangkan kata hati
h.  Belajar memperoleh kebebasan yang bersifat pribadi
i.  Mengembangkan  sikap  yang  positif  terhadap  kelompok  sosial  dan  lembaga  –
lembaga.
Menurut ahli  psikologi lain tentang tugas – tugas perkembangan fase anak 6 – 12 tahun :
1.  Charlotte Buhler (1930) dalam bukunya yang berjudul The first tear of life :
a.  Fase ketiga (6 – 8 tahun)
Anak belajar bersosialisasi dengan lingkungannya.
b.  Fase keempat (9 – 12 tahun)
Anak  belajar  mencoba,  bereksperimen,bereksplorasi,  yang  distimulasi  oleh
dorongan – dorongan menyelidik dan rasa ingin tahu yang besar  

2.  Elizabeth B. Hurlock (1978) dalam bukunya Developmental Psychology :
a.  Masa anak (6 – 11 tahun). Anak belajar menyesuaikan diri dengan lingkungan.
b.  Masa  praremaja  (11  –  12  tahun).  Anak  belajar  memberontak  yang  ditunjukkan
dengan tingkah laku negatif.

3.  Erik Erickson (1963) dalam bukunya Chilhood and Society :
a.  Awal masa kanak – kanak (6 – 7 tahun)
Anak  belajar  menyesuaikan  diri  dengan  teman  sepermainannya,  ia  mulai  bisa
melakukan hal – hal kecil (berpakaian, makan) secara mandiri.
b.  Akhir masa kanak – kanak (8 – 11 tahun)
Anak belajar untuk membuat kelompok dan berorganisasi.
c.  Awal masa remaja (12 tahun)
Anak  belajar  membuang  masa  kanak  –  kanaknya  dan  belajar  memusatkan
perhatian pada diri sendiri.

3.  Tugas – tugas perkembangan remaja (adolescence) dan dewasa
Masa  ini  merupakan  masa  transisi  yang  dapat  diarahkan  kepada  perkembangan  masa
dewasa yang sehat (Konopka, dalam Pikunas, 1976 ; Kaczman & Riva, 1996). 
Remaja  merupakan  masa  berkembangnya  identity  (identitas)  (Erik  Erickson  (Adams  &
Gullota, 1983 : 36 – 37; Conger, 1977 : 92 – 93)).

Identity  adalah  suatu  pengorganisasian  dorongan  –  dorongan  (drives),  kemampuan  –
kemampuan  (abilities),  keyakinan  –  keyakinan  (beliefs),  dan  pengalaman  –  pengalaman
individu kedalam citra diri (images of self) yang konsisten (Anita E. Woolfolk). 

Lustin Pikunas (1976 : 257 – 259), masa remaja akhir ditandai oleh keinginan yang kuat
untuk  tumbuh  dan  berkembang  secara  matang  agar  dapat  diterima  oleh  teman  sebaya,
orang dewasa, dan budaya.

Menurut beberapa ahli tugas – tugas perkembangan pada masa ini adalah :
1.  William Kay
a.  Menerima fisiknya sendiri beriku keragaman kualitasnya.
b.  Mencapai  kemandirian  emosional  dari  orangtua  atau  figur  –  figur  yang  menjadi
otoritas.
c.  Mengembangkan  keterampilan  komunikasi  interpersonal  dan  belajar  bergaul
dengan teman sebaya atau orang lain baik secara individual maupun kelompok.
d.  Menemukan manusia model untuk dijadikan identitasnya.
e.  Menerima  dirinya  sendiri  dan  memiliki  kepercayaan  terhadap  kemampuannya
sendiri.
f.  Memperkuat  kemampuan  mengendalikan  diri  atas  dasar  prinsip  atau  falsafah
hidup.
g.  Mampu meninggalkan masa kanak – kanaknya.

2.  Robert J. Havighurst (1961)
a.  Mencapai hubungan yang lebih matang dengan teman sebaya.
b.  Mencapai peranan sosial sebagai pria atau wanita.
c.  Menerima keadaan fisiknya dan menggunakannya secara efektif.
d.  Mencapai kemadirian emosional dari orang tua dan orang dewasa lainnya.
e.  Mancapai jaminan kemandirian ekonomi.
f.  Memilih dan mempersiapkan karir (pekerjaan).
g.  Belajar merencanakan hidup berkeluarga.
h.  Mengembangkan keterampilan intelektual.
i.  Mencapai tingkah laku yang bertanggung jawab secara sosial.
j.  Memperoleh  seperangkat  nilai  dan  sistem  etika  sebagai  petunjuk/pembimbing
dalam bertingkah laku.
k.  Mengamalkan  nilai  –  nilai  keimanan  dan  ketakwaan  kepada  tuhan  dalam
kehidupan sehari – hari, baik pribadi maupun sosial.

3.  Charlotte Buhler (1930)
Belajar  melepaskan  diri  dari  persoalan  tentang  diri  sendiri  dan  lebih  mengarahkan
minatnya  pada  lapangan  hidup  konkret,  yang  dahulu  dikenalnya  secara  subjektif
belaka.

4.  Elizabeth B. Hurlock (1978)
Belajar  menyesuaikan  diri  terhadap  pola  –  pola  hidup  baru,  belajar  untuk  memiliki
cita  –  cita  yang  tinggi,  mencari  identitas  diri  dan  pada  usia  kematangannya  mulai
belajar memantapkan identitas diri

5.  Erik Erikson (1963)
Anak  mulai  memusatkan  perhatian  pada  diri  sendiri,  mulai  menentukan  pemilihan
tujuan hidup, belajar berdikari, belajar bijaksana.

Entri yang Diunggulkan

SOAL KEPERAWATAN GERONTIK Tanda-Tanda Vital

 Tanda-Tanda Vital 1. Suhu tubuh normal orang dewasa adalah... A. 34–35°C B. 36,5–37,5°C C. 38–39°C D. 40–41°C Jawaban: B 2. Alat u...