Sabtu, 27 Agustus 2022

Makalah Komunitas Tentang Home care

PENGERTIAN HOMECARE

Menurut Depkes RI (1990) menyatakan  home health care  adalah sistem dimana pelayanan kesehatan dan pelayanan sosial diberikan di rumah kepada orang-orang yang cacat atau orang-orang yang harus tinggal di rumah karena kondisi kesehatannya.

Menurut Purwanto, B(2013 mendefinisikan bahwa home care adalah pelayanan kesehatan yang berkesinambungan dan komprehensif diberikan kepada individu, keluarga, di tempat tinggal mereka yang bertujuan untuk meningkatkan, mempertahankan, memulihkan kesehatan/memaksimalkan kemandirian dan meminimalkan kecacatan akibat dari penyakit. Layanan diberikan sesuai dengan kebutuhan pasien/keluarga yang direncanakan, dikoordinir, oleh pemberi layanan melalui staff yang diatur berdasarkan perjanjian bersama.

TUJUAN KEPERAWATAN HOMECARE

Perawatan kesehatan di rumah bertujuan :

Membantu klien memelihara atau meningkatkan status kesehatan dan kualitas hidupnya,

Meningkatkan keadekuatan dan keefektifan perawatan pada anggota keluarga dengan masalah kesehatan dan kecacatan,

Menguatkan fungsi keluarga dan kedekatan antar keluarga,

Membantu klien tinggal atau kembali ke rumah dan mendapatkan perawatan yang diperlukan, rehabilitasi atau perawatan paliatif,

Biaya kesehatan akan lebih terkendali.

Terpenuhi kebutuhan dasar ( bio-psiko- sosial- spiritual ) secara mandiri.

Meningkatkan kemandirian keluarga dalam pemeliharaan kesehatan.

Meningkatkan kualitas pelayanan keperawatan kesehatan di rumah.



JENIS - JENIS TINDAKAN KEPERAWATAN HOMECARE


Pengertian Memberikan obat melalui oral/ mulut

Tujuan Memberikan obat tertentu yang pemberiannya dengan cara oral

Kebijakan Kebijakan

Dilakukan oleh Perawat

Indikasi: Pada pasien yang memerlukan pemberian obat melalui oral

Prosedur A.  Persiapan

Persiapan  Alat:

Obat sesuai intruksi 

Cairan / makanan yang di gunakan klien minum obat 

Formulir pencatatan  

Persiapan klien 

Jelaskan prosedur dan tujuan

Tanya klien makanan / minuman yang sering di gunakan

untuk minum obat 

Persiapan Perawat

Cuci tangan


Prosedur kerja

Memberi salam,sapa,senyum pada klien

Baca basmallah sebelum melakukan tindakan

Pastikan obat yang di berikan sesuai dengan instruksi : jenis, dosis, waktu,    cara pemberian dengan klien yang diberi obat.

Bantu klien posis duduk / berbaring

Berikan obat dengan tepat dan makanan / minuman yang memudahkan untuk menelan obat mungkin lebih mudah pasien 

Tetap bersama pasien sampai obat tertelan atau minta keluarga pastikan obat tertelan

Berikan obat oral tersebut ke pasien untuk di bawa pulang

Berikan Lembar Kontrol Minum Obat

Jelaskan kepada pasien manfaat mengisi lembar kontrol obat setelah mengkonsumsi obat tersebut.




D. PERSYARATAN HOMECARE

Adapun Syarat-Syarat Pengadaan Home Care yaitu :

Ketenagaan

Manajer kasus, dengan kwalifikasi :

Minimal D.III

Pemegang sertifikat pelatihan home care

Pengalaman kerja minimal 3 tahun

Memiliki SIP,SIK,SIPP

b.  Pelaksana pelayanan, dengan kwalifikasi :

Minimal D.III

Pemegang sertifikat pelatihan home care

Pengalaman kerja minimal 3 tahun

Memiliki SIP,SIK,SIPP

Perijinan Home Care

Berbadan hukum ( yayasan, badan hukum lainnya )

Permohonan ijin ke Dinkes kabupaten/ Kota, dengan melampirkan :

Rekomendasi PPNI

Ijin prakik perawat ( SIP, SIK, SIPP )

Persyaratan peralatan kesehatan dan sarana komunikasi dan transportasi

Ijin lokasi bangunan

Ijin lingkungan

Ijin usaha

Persyaratan tata ruang bangunan


                                    Daftar pusaka

Depkes RI.1990.Pembangunan Kesehatan Masyarakat di Indonesia.   Jakarta:Depkes  RI

Purwanto, B(2013). Herbal dan keperawatan komplementer (Teori, Praktek, Hukum dalam Asuhan Keperawatan ). Nuha Medika : Yogyakarta.



MAKALAH ASUHAN KEPERAWATAN Bagaimana pengaruh Murrotal alquraan terhadap nyeri pada Post operasi Laparatomi

 BAB I

Pendahuluan 

Latar Belakang

Perkembangan suatu globalisasi dan perubahan gaya hidup dalam manusia yang dalam berdampak terhadap perubahan pola penyakit. Beberapa tahun terakhir masyarakat Indonesia mengalami perkembangan dan peningkatan suatu angkadalam  kesakitan dan kematian. Untuk mengatasi berbagai macam keluhan penyakit, mulai dari tindakan yang paling ringan yaitu secara konservatif atau non bedah sampai tindakan yang paling berat yaitu operatif atau tindakan bedah (Potter dan Perry, 2006, dalam Marliyana,2018).

Pembedahan merupakan suatu peristiwa yang komplek dalam menegangkan, dilakukan didalam ruang operasi rumah sakit, terutama merupakan salah satu pembedahan yang mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan bagian organ yang mengalami masalah (hemoragi, perforasi, kanker dan obstruksi). Laparatomi dilakukan pada kasus-kasus: apendisitis perforasi, hernia inguinalis, kanker lambung, kanker colon dan rektum, obstruksi usus, inflamasi usus kronis, kolestisitis dan peritonitis (Sjamsuhidajat, 2005 ,dalam Faridah dan kawan-kawan, 2015).  

Berdasarkan data yang diperoleh dari World Health Organization (WHO) dalam Sartika (2013), jumlah dalam pasien dengan tindakan operasi mencapai angka peningkatan yang sangat signifikan dari tahun ke tahun. Tercatat di tahun 2011 terdapat 140 juta pasien di seluruh rumah sakit di dunia, sedangkan pada tahun 2012 data berapa mengalami peningkatan sebesar 148 juta jiwa. Tindakan operasi di Indonesia pada tahun 2012 mencapai 1,2 juta jiwa (WHO dalam Sartika, 2013,dalam rahmawati dan kawan- kawan, 2018).

Menurut Departemen Kesehatan Republik Indonesia (Depkes RI) pada tahun 2009, tindakan pembedahan menempati urutan yang kesebelas dari 50 penyakit di rumah sakit se-Indonesia dengan persentase 12,8% yang diperkirakan 32% merupakan bedah laparatomi (Kusumayanti, 2014). Data laparatomi Indonesia meningkat setiap tahun dari 162 pada tahun 2005 menjadi 983 kasus pada tahun 2006 dan 1.281 kasus pada tahun 2007 (Hartoyo, 2015 dalam Darmawan dan kawan – kawan, 2017). 

Laparatomi merupakan salah satu prosedur pembedahan mayor, dengan melakukan penyayatan pada lapisan-lapisan dinding abdomen untuk mendapatkan bagian organ abdomen yang mengalami masalah (hemoragi, perforasi, kanker, dan obstruksi) (Sjamsuhidajat & Jong, 2005). Laparatomi juga dilakukan pada kasus-kasus digestif dan kandungan seperti apendiksitis, perforasi, hernia inguinalis, kanker lambung, kanker colon dan rectum, obstruksi usus, inflamasi usus kronis, kolestisitis dan peritonitis (Sjamsuhidajat & Jong, 2005).

Nyeri adalah suatu pengalaman dalam  sensori nyeri dan emosional yang tidak menyenangkan yang berkaitan dengan suatu kerusakan yang melalui  jaringan aktual dan potensial yang tidak menyenagkan yang terlokalisasi pada suatu bagian tubuh ataupun sering disebut dengan istilah distruktif dimana jaringan rasanya seperti di tusuk-tusuk, panas terbakar, melilit, seperti emosi, perasaan takut dan mual (Judha, 2012,dalam Prehati dan kawan- kawan , 2018).

Tindakan pembedahan juga merupakan suatu pengalaman yang sulit bagi hampir semua pasien. Berbagai kemungkinan buruk bisa saja terjadi yang akan bisa mempunyai  membahayakan bagi pasien. Maka tidak heran jika seringkali pasien dan keluarganya menunjukan sikap yang agak berlebihan dengan nyeri yang mereka alami. Beberapa orang kadang tidak mampu mengontrol nyeri yang dihadapi, sehingga terjadi disharmoni dalam tubuh. Hal ini akan teraakibat yang  buruk, karena apabila tidak segera diatasi akan meningkatkan tekanan darah dan pernafasan yang dapat menyebabkan pendarahan baik pada saat pembedahan ataupun pasca operasi. Intervensi keperawatan yang tepat diperlukan untuk mempersiapkan klien baik secara fisik maupun psikis sebelum dilakukan operasi (Efendy, 2005, dalam Faridah dan kawan-kawan, 2015).

Manajemen dalam nyeri farmakologi yang menggunakan pemberian obat analgesik (Tamsuri, 2008, dalam Syah dan kawan- kawan 2018). Manajemen dalam nyeri non farmakologi meliputi berapa teknik distraksi, teknik relaksasi, teknik massage, kompres, dan immobilisasi. Salah satu dalam metode yang sering dilakukan dalam tenaga kesehatan umumnya menggunakan dalam teknik distraksi. Distraksi merupakan suatu pengalihan dari rasa nyeri ke stimulus lainnya (Tamsuri, 2008, dalam Syah dan kawan- kawan, 2018). 

Teknik distraksi bekerja memberi pengaruh yang paling baik dalam suatu  jangka waktu yang singkat, serta untuk mengatasi beberapa nyeri intensif yang hanya berlangsung dalam beberapa menit. Salah satu teknik yang distraksi dalam efektif adalah suatu terapi murottal (mendengarkan bacaan ayat-ayat suci Al-Qur’an). 

Murottal Al-Qur’an merupakan bacaan Al-Qur’an yang dibacakan oleh Qori’ atau Qori’ah sesuai dengan tartil dan tajwid yang mengalun indah yang dikemas dalam media audio seperti kaset, Compact Disk (CD) atau data digital (Syarbini & Jamhari, 2012, Syah 2018. Dan ada juga pengertian dari Murottal Al-Qur’an surah Al-fatihah merupakan terapi yang dikatakan efektif untuk menghilangkan rasa takut, gelisah dan cemas (Kardiatun,2015,dalam Prihati dan kawan – kawan,2018 .

Lantunan Al-Qur’an secara fisik yang mengandung unsur suara manusia, dimana hal ini merupakan suatu instrumen dalam penyembuhan yang menakjubkan dan alat yang paling mudah dijangkau (Thalbah, 2013, dalam Syah dan kawan- kawan 2018). 

Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka peneliti tertarik untuk melakukan penelitian mengenai “Pengaruh Terapi murotal Al Quran Terhadap Tingkat Nyeri pada Pasien post operasi Laparatomi di ruang Bedah RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang. Hal ini didasarkan pada masih tingginya tingkat Nyeri pada  pasien Saat akan dilakukan tindakan pembedahan post laparatomi .




Rumusan Masalah

Berdasarkan Latar Belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah penelitian yaitu “Bagaimana  pengaruh Murrotal alquraan terhadap nyeri pada  Post operasi Laparatomi di Ruang Bedah RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang?

Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Untuk mengetahui pengaruh Murrotal alquraan terhadap nyeri pada Post operasi Laparatomi di Ruang Bedah RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang?

Tujuan khusus 

Mengidentifikasi nyeri  post  Laparatomi sebelum di berikan murotal alquraan di Ruang Bedah RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang?

Mengidentifikasi nyeri post  Laparatomi sesudah di berikan murotal alquraan di Ruang Bedah RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang?

Menganalisis hubungan mengetahui pengaruh Murrotal alquraan terhadap nyeri pada post operasi Laparatomi di Ruang Bedah RSUD dr. Abdul Aziz Singkawang?

Manfaat Penelitian 

Manfaat bagi Instalasi Rumah Sakit

Memberikan informasi yang dapat digunakan sebagai umpan balik dalam peningkatan pelayanan keperawatan pada pasien dengan post operatif dan sebagai bahan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan

Manfaat bagi institusi

Diharapakan dapat menambah referensi tentang pengaruh Murrotal alquraan terhadap nyeri pada post operasi Laparatomi Memperkuat teori di bidang keperawatan khususnya perawatan post operatif

Manfaat bagi penulis

Diharapkan dapat menambah pengalaman sekaligus tambahan tentang  pengaruh Murrotal alquraan terhadap nyeri pada post operasi Laparatomi untuk Memperkuat teori di bidang keperawatan khususnya perawatan post operatif Selain itu juga untuk menambah wawasan dan penulis juga ingin mengembangkan ide-ide yang di rasa menarik, penulis juga dapat menerapkan metodelogi penelitian dan ilmu terapan yang telah di dapat selama mengikuti perkuliahan dan praktek lapangan.


Keaslian Penelitian 

Nama Tahun Judul Perbedaan dengan Penelitian Hasil 

Nanik Puji Rochman 2018 Pengaruh Murotal Alquran terhadap nyeri post operasi (Di Parviliun asoka Rsud Kab. Jombang) Penelitian ini mengambil sampel pasien

post operasi,uji statistik dan tahun penelitian berbeda. Ada pengaruh  yang signifikan antar  nyeri post operasi

Rian Sri Wulandari 2014 Pengaruh pendidikan kesehatan dan Terapi Murotal terhadap tingkat kecemasan pasien pre operasi laparatomi di Ruang Bedah Rsu.Abdul Aziz. Singkawang. Penelitian ini mengambil sampel pasien

Pre operasi,uji statistik dan tahun penelitian berbeda. Ada pengaruh signifikan antar kecemasan sebelum dan sesudah pasien pre operasi laparatomi di Ruang Bedah Rsu.Abdul Aziz. Singkawang.




MAKALAH ASKEP AGREGAT DALAM KOMUNITAS KESEHATAN POPULASI PENYAKIT INFEKSI TBC

KATA PENGANTAR

Puji syukur kita panjatkan Kehadirat Tuhan Yang Maha Kuasa karena atas limpahan-Nyalah sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami menyadari bahwa dengan selesainya tugas ini tidak terlepas dari berbagai belah pihak terutama Dosen Pembimbing dan teman seperjuangan. Olehnya itu terima kasih kami ucapkan yang setinggi-tinggi kepada Beliau.

Sebagai manusia biasa tentulah dalam penyusunan tugas ini terdapat berbagai kekurangan, baik yang disadari maupun yang tidak disadari untuk itu penyusun dengan lapang dada siap menerima kritikan dan saran dari berbagai belah pihak yang telah membaca tugas ini, demi penyempurnaan dalam tulisan ini.

Akhir kata semoga tugas ini dapat bermanfaat bagi semua pihak yang membutuhkan, khususnya bagi penyusun.

Pontianak, 25 Oktober 2019


Penyusun

DAFTAR ISI


BAB I

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Keluarga merupakan unit pelayanan kesehatan yang terdepan dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Apabila setiap keluarga sehat akan tercipta komunitas yang sehat pula. Masalah kesehatan yang dialami oleh sebuah keluarga dapat mempengaruhi komunitas setempat bahkan dapat pula mempengaruhi komunitas global. Sebagai contoh apabila ada seorang anggota keluarga yang menderita penyakit demam berdarah,nyamuk sebagai vector penularan dan penyebab dapat menggigit anggota keluarga lain dan juga tetangga,dimana hal tersebut dapat mempengaruhi system keluarga dan juga komunitas tempat keluarga tersebut tinggal. Membangun Indonesa sehat seharusnya dimulai dengan membangun keluarga yang sehat sesuai dengan budaya keluarga ( Sudiharto,2007: 22).

Oleh karena itu, dalam melaksanakan asuhan keperawatan komunitas pada keluarga yang menjadi prioritas utama adalah keluarga dengan masalah kesehatan yang rentan (menular atau menjangkiti) anggota keluarga lainnya, seperti pada keluarga yang salah satu anggota keluarganya menderita penyakit TBC Paru.

Tuberculosis paru adalah penyakit infeksi menular yang disebabkan oleh mycobacterium tuberculosis. Kuman ini berbentuk batang dan tahan asam dapat berupa organisme pathogen dan saprovit ( Sylvia,A.Price.2005: 825). Tanda dan gejala yang sering dijumpai atau dikeluhkan berupa batuk – batuk berlendir atau tidak berlendir  lebih dari 3 minggu, keringat berlebihan pada malam hari,napsu makan berkurang,berat badan menurun,serta kelelahan dan kelemahan.

WHO melaporkan angka kesakitan dan kematian akibat kuman mycobakterium tuberkulosis masih tinggi pada saat ini.Tahun 2009 jumlah penderita yang meninggal karena TBC sebanyak 1,7 juta orang (600.000 diantaranya perempuan) sementara ada 9,4 juta kasus TB baru didunia pada tahun 2009 juga. Sepertiga dari populasi dunia sudah tertular dengan TB dimana sebagian besar penderita TB adalah usia produktif (15 – 55 tahun). Dinegara – negara miskin kematian akibat tuberkulosis menempatkan 25 % dari seluruh kematian yang terjadi. Daerah Asia Tenggara menanggung bagian yang terberat dari bagian TBC global yakni sekitar 38 % dari kasus tuberkulosis di dunia. Di Indonesia pada tahun 2009 WHO mencatat jumlah penderita tuberkulosis menurun ke peringkat 

lima dunia dengan jumlah penderita 429.000 orang. Kesakitan dan kematian akibat TBC mempunyai konsekuensi yang sangat signifikan terhadap permasalahan ekonomi baik secara individu,keluarga maupun masyarakat. Strategi DOTS ( Directly Observed Treatment Shortcourse chemotherapy) yang direkomendasikan oleh WHO merupakan pendekatan yang paling tepat saat ini dan harus dijalankan secara sungguh(www.depkes.go.id). Menurut WHO seseorang yang menderita tuberkulosis akan kehilangan pendapatan rumah tangganya sekitar tiga sampai empat bulan.

Rumusan Masalah

Rumusan masalah dari makalah ini adalah “bagaimanakah asuhan keperawatan komunitas dengan penyakit TBC?”

Tujuan

Tujuan Umum

Mengetahui asuhan keperawatan keluarga pada klien dengan TBC

Tujuan Khusus 

Mengetahui konsep tahap perkembangan

Mengetahui tinjauan medis TBC meliputi pengertian, etiologi, manifestasi klinis, komplikasi, penatalaksanaan, dan prognosis

Mengetahui ciri-ciri klien TBC dengan melakukan pengkajian keperawatan

Mengetahui intervensi keperawatan pada klien dengan TBC

Mengetahui tindak lanjut intervensi dalam evaluasi keperawatan pada klien TBC

Mengetahui konsep proses keperawatan keluarga


BAB II

LANDASAN TEORI

Keperawatan Komunitas

WHO ( 1974) komunitas sebagai kelompok sosial yang ditentukan oleh batas – batas wilayah,nilai – nilai keyakinan dan minat yang sama serta adanya saling mengenal dan berinteraksi antara anggota masyarakat yang satu dengan yang lainnya. Koentjaraningrat(1990) komunitas merupakan suatu kesatuan hidup manusia yang menempati suatu wilayah nyata dan berinteraksi menurut suatu sistem adat istiadat serta terikat oleh rasa identitas suatu komunitas.

Depkes RI ( 1986) keperawatan masyarakat adalah suatu upaya pelayanan keperawatan yang merupakan bagian integral dari pelayanan kesehatan yang dilaksanakan oleh perawat dengan mengikut sertakan team kesehatan lainnya dan masyarakat untuk memperoleh tingkat kesehatan yang lebih tinggi dari individu,keluarga dan masyarakat( Mubarak,2009:2)

Dari beberapa pengertian diatas dapat disimpulkan bahwa keperawatan komunitas adalah pelayanan keperawatan kesehatan yang diberikan oleh perawat kepada individu,keluarga dan masyarakat dengan melibatkan keluarga dan masyarakat dalam suatu wilayah.

Tuberculosis

Pengertian 

Tuberkulosis merupakan penyakit infeksi yang menyerang parenkim paru-paru, disebabkan oleh MycobacteriumTuberculosis. kuman batang asam ini dapat merupakan organisme patogen maupun saprofit. bakteri mempunyai ada beberapa  mikrobakteria patogen, tetapi tetap hanya srain bovin dan kuman yang mempunyai patogenik yang terhadap manusia. Basil tuberkel ini yang berukuran 0,3 x 2 sampai 4 ,ukuran yang ini melebih kecil dari satu sel darah merah (Taqiyyah & Mohammad Jauhar, 2018 ).

Tuberculosis paru adalah penyakit infeksi yang disebabkan oleh Mycobacterium tuberculosis dengan gejala yang sangat bervariasi. (Mansjoer, 1999 :472). 

Tuberculosis(TB) adalah penyakit infeksiusyang terutama menyerang parenkim paru. 

( smeltzer, 2001 :584). 



Etiologi

Agens infeksius utama, Mycobacterium tuberculosis adalah batang aerobic tahan asam yang tubuh dengan lambat dan sensitif terhadap panas dan sinar ultraviolet. (smaltzer, 2001 : 584). 

Penyebab utama tuberculosis adalah Mycobacterium tuberculosis, sejenis kuman berbentuk batang dengan ukuran panjang 1- 4/ um dan tebal 0,3 - 0,6/um. Yang tergolong dalam kuman Mycobacterium tuberculosis komplek adalah :

Mycobacterium tuberculosis

Varian asam.

Varian african I.

Varian african II. 

M. Bovis.

Pembagian tersebut adalah berdasarkan perbedaan secara epidemologi.Kelompok kuman M. Tuberculosae dan Micobacterium other than TB ( MOTT, atypical) adalah  M. Malmacerce , M. Xenopi.

Sebagian besar kuman terdiri atas asam lemak (lipid), kemudian peptidoglikan dan arabinomanan. Lipid inilah yang membuat kuman lebih tahan terhadap asam ( asam alkohol) sehingga disebut bakteri tahan asam (BTA) dan ia juga lebih tahan terhadap gangguan kimia dan fisis. Kuman dapat tahan hidup pada udara kering maupun dalam keadaan dingin ( hal ini terjadi karena kuman berada dalam keadaan dormant. Dari sifat dormant menjadi tuberculosis aktif lagi.

Sifat lain kuman ini adalah aerob. Sifat ini menunjukkan bahwa kuman lebih menyenangi jaringan yang tinggi kandungan oksigennya. Dalam hal ini tekanan oksigen pada bagian apical paru-paru lebih tinggi dari pada lain, sehingga bagian apical ini merupakan tempat predileksi penyakit tuberculosis. ( Bahar, 2001 : 820 -821)

Manifestasi Klinis

Demam (subfebris, kadang-kadang 40 - 41 C, seperti demam influensa.

Batuk (kering, produktif, kadang-kadang hemoptoe (pecahnya pembuluh darah).

Sesak napas, jika infiltrasi sudah setengah bagian paru.

Nyeri dada, jika infiltrasi sudah ke pleura.

Malaise , anoreksia, badan kurus, sakit kepala, meriang, nyeri otot, keringat malam.


Cara Penularan

Tubercolosis ditukarkan dari orang ke orang oleh transmisi melalui udara, individu terinfeksi melalui berbicara, batuk, bersin, tertawa atau bernyayi, melepaskan dropletbesar (lebih besar dari 100m) dan kecil (1sampai 5 m). Droplet yang besar manetap, sementara droplet yang kecil tertahan di udara dan tertiup oleh individu yang rentan. Individu yang beresiko tinggi untuk tertular TB, menurut Smeltzer ( 2001:594 ) adalah :

Mereka yang kontak dengan seseorang yang mempunyai TB aktif.

Individu imunosupresif(termasuk lansia, pasien dengan kanker mereka yang dalam tetapi kontrikosteroidatau mereka yang terinfeksi dengan HIV).

Penggunaan obat-obat intravena(IV) dan Alkoholik.

Setiap individu tanpa perawatan kesehatan yang adekuat ( tuna wisma, tahanan, etnik dan ras minoritas terutama anak-anak dibawah usia 15 tahun dan dewasa muda antara yang berusia 15-44 tahun).

Setiap individu dengan gangguan medis yang sudah ada sebelumnya, misal diabetes militus ( DM ) gagal ginjal kronis rentan sekali terhadap kuman TB.

Imigrasi dari negara dengan insiden TB yang tinggi (Asia Tenggara, Afrika, Amerika Serikat dan Latin, Karibia). Seseorang dari daerah endemis beresiko tinggi tertular kuman TB.

Setiap individu yang tinggal di institusi (misal fasilitas perawatan jangka panjang, psikiatrik, penjara)

Daerah perumahan kumuh.

Sanitasi yang buruk menyebabkan imun buruk, sehingga mempercepat perembangan kuman TB. (Smeltzer 2001 : 594).Daya penularan dari seorang penderita ditentukan oleh banyaknya kuman yang dikeluarkan dari parunya. Makin tinggi derajat positif hasil pemeriksaan dahak, makin menular penderita tersebut. Bila hasil pemeriksaan hasil dahak negatif (tidak terlihak kuman), maka penderita tersebut tidak menular. Kemungkinan seseorang terinfeksi TB paru ditentukan oleh konsentrasi droplet dalam udara dan lamanya menghirup udara tersebut. (Depkes RI 2002 : 9) 




Patofisiologi

Tempat masuknya kuman Mycobacterium tuberculosis adalah saluran pernafasan, saluran pencernaan dan luka terbuka pada kulit. Kebanyakan infeksi tuberculosis terjadi melalui udara ( air bone 0, yaitu melalui inhalasi droplet mengandung kuman–kuman basil tuberkel yang berasal dari orang yang terinfeksi. Tuberculosis adalah penyakit yang dikendalikan oleh respon imunitas sel–sel efektornya adalah makrofag, sedangkan lomfosis(biasanya sel T) adalah sel imunoresponsifnya.

Basil tuberkel yang mencapai permukaan alveolus biasanya di inhalasi sebagai suatu unit yang terdiri dari satu sampai tiga basil, gumpalan basil yang lebih besar cenderung bertahan disaluran hidung dan cabang besar bhroncus. Setelah berada dalam ruang alveolusbiasanya dibagian bawah lobusatas paru–paru atau di bagian atas lobus bawah, basil tuberkel ini membangkitkan reaksi peradangan. Leukosit pada morfonuklear tampak pada tempat tersebut. Sesudah hari–hari pertama maka leukosit diganti oleh makrofag. Alveoli yang terserang akan mengalami konsolidasi dan timbul gejala pneumonia akut. Basil juga menyebar melalui getah bening regional. Makrofag yang mengadakan infiltrasi menjadi lebih panjang dan sebagian bersatu sehingga membentuk sel tuberkel epiteloid yang dikelilingi oleh limfosit.

Nekrosis bagian sentral lesi memberikan gambaran yang relatif padat dan seperti keju disebut nekrosis kaseosa. Daerah yang mengalami nekrosis kaseosa dan jaringan granulasi disekitarnya yang terdiri dari satu sel epiteloid dan fibroblas, menimbulkan respon berbeda. Jaringan granulasi menjadi lebih fibrosa, membentuk jaringan parut yang akhirnya akan membentuk suatu kapsul yang menglilingi tuberkel. Lesi primer paru–paru dinamakan fokus ghon dan gabungan terserangnya kelenjar getah bening regional dan lesi primer dinamakan kompleks ghon. Respon lain yang dapat terjadi pada daerah nekrosis adalah pencairan, dimana bahan cair lepas dari dinding kavitas akan masuk pada percabangan trakeobronchial. Bila peradangan mereka lumen, bronkus dapat menyempit dan tertutup oleh jaringan parut yang terdapat dekat dengan percabangan bronkus rongga. Bahan perkejuan dan lesi mirip dengan lesi berkapsul yang tidak terlepas. Keadaan ini dapat menimbulkan gejala dalam waktu lama atau membentuk lagi hubungan dengan bronkus dan menjadi tempat peradangan aktif. Organisme yang lolos dari kelenjar getah bening akan mencapai aliran darah dalam jumlah kecil yang kadang–kadang dapat menimbulkan lesi pada bagian organ lain. Jenis penyebaran ini dikenal sebagai penyebaran limfohemotogen, yang biasanya sembuh sendiri. Penyebaran hematogen merupakan suatu fenomena akut yang biasanya menyebabkan tuberculosis millier.

Ini banyak terjadi apabila fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk kedalam system vaskuler dan tersebar ke organ – organ tubuh. ( price, 1995 : 753 -754 )

Bakteri dipindahkan melalui jalan nafas ke alveoli tempat dimana mereka berkumpul dan mulai untuk memperbanyak diri, baik juga dipindahkan melalui system limfe dan aliran darah kebagian tubuh lainnya (ginjal, tulang korteks cerebri) dan area paru lainnya (lobus atas).

System imum tubuh berespon dengan melakukan reaksi inflamasifagosit (noukrofit dan makrofag) menelan bakteri, limfosit spesifik tuberculosis milisis (menghancurkan) basil jaringan normal. Reaksi jaringan ini mengakibatkan penumpukan eksudat dan alveoli, menyebabkan bronchopneumonia infeksi awal biasanya terjadi 2 sampai 10 minggu pemajanan.

Massa jarinngan baru, yang disebut granulomas yang merupakan gumpalan basil yang masih hidup dan yang sudah mati dikelilingi oleh makrofag yang berbentuk dinding protektif. Granulosis diubah menjadi massa jaringan fibrosa. Bagian central dimana massa fibrosa ini disebut tuberkel ghon. Bahan (bakteri) menjadi dormant, tanpa perkembangan penyakit aktif.

Setelah pemajanan dan infeksi awal, individu dapat mengalami penyakit aktif karena gangguan atau respon inadekuat dari respon imun. Tuberkel ghon memecah, melepas bahan seperti keju dalam bronchial, bakteri kemudian tersebar ke udara. Tuberkel yang memecah menyembuh membentuk jaringgan parut. Parut ruang terinfeksi menjadi lebih banyak mengakibatkan terjadinya bronchopneumonia lebih lanjut. (smeltzer, 2001 : 585)

Komplikasi 

Penyakit tuberculosis paru bila tidak ditangani dengan benar akan menimbulkan komplikasi dini dan komplikasi lanjut :

Komplikasi dini.

Pleuritis : inflamasi pleura

Efusi pleura : alir cairan keluar dari dalam pembuluh yang normal kejaringan sekitarnya.

Empiema : timbunan atau kumpulan pus dalam suatu kavitas.

Langiritis : inflamasi laring.

Menjalar ke organ lain melalui penyebaran suatu hematogen karena fokus nekrotik merusak pembuluh darah sehingga banyak organisme masuk ke dalam system vaskuler dan tersebar ke organ-organ tubuh usus.

Pancet’s athropathy : Setiap penyakit sendi.

Komplikasi lanjut

Obstruksi jalan nafas : SPOT (Sindrom Obstruksi Pasca Operatif).

Kerusakanparenkim berat : SPOT / fibrosis paru, Korpulmonal.

Amiloidosis terdapat timbunan-timbunan amiloid (zat pati) dalam jaringan tubuh atau sebagai timbunan abnormal dalam berbagai organ.

Karsinoma Paru.

Infeksi yang berkelanjutan tanpa penanganan dapat menyebabkan kanker paru.

Sindrom gagal nafas dewasa (ARDS).

Kerusakan pertukaran gas dan pengalihan ekstensif darah dalam paru- paru. (Bahar, 2001 : 829)

Pemeriksaan Penunjang

Tes kulit tuberculin.

Tehnik standart (tes Mantoux) adalah dengan menyuntikkan tuberculin (PPD) sebanyak 0,1 ml yang mengandung 5 unit tuberculin secara intracutan, pada sepertiga alas permukaan volar lengan bawah sebelah kulit dibersihkan dengan alkohol. Untuk memperoleh reaksi kulit yang maksimal diperlukan waktu antara 48 sampai 72 jam sesudah penyuntikan. Reaksi harus dibaca, yang dicatat dari reaksi ini adalah diameter indurasi dalam satuan milimeter. Pengukuran harus dilakukan melintang terhadap sumber panjang lengan bawah. Indurasi dapat ditentukan dengan inspeksi dan palpasi daerah indurasi sebesar 10 mm atau lebih dianggap bermakna dan mencerminkan adanya sensifitas yang berasal dari infeksi dengan hasil daerah indurasi yang diameternya kurang dari 10 mm dinggap tidak bermakna.

Vaksin BCG

Vacillus Calmette – Guerin (BCG), suatu bentuk vaksin dari kuman tubercolusi sapi yang dilemahkan. Organisme disuntikkan ke kulit untuk membentuk fokus primer yang berdinding berkapur dan berbatas tegas. Reaksi 10 atau 15 mm dianggap sebagai reaksi bermakna.

Pemeriksaan Radiografik

Secara patologis,manifestasi dini tuberculosis adalah berupa suatu kompleks kelenjar getah bening parenkim. Pada orang dewasa, segmen apeksdan posterior libus atas atau segmen superior lobus bawah yang menimbulkan lesi yang terlihat homogen dengan densitas yang lebih pekat. Dapat juga terlihat adanya pembentukan kavitas dan gambaran penyakit yang menyebar yang bilateral.

Pemeriksaan bakteriologi

Pemeriksaan sputum dengan cara zielh neelsen. Sediaan apus yang akan diwarnai mula- mula digenangi dengan zat karbolfuksin yang dipanaskan, lalu dilakukan dekolonisasi dengan asam alkohol. Setelah itu diwarnai dengan mekelin biru atau “brilliant green” setelah larutan ini melekat pada micobacterium maka tidak dapat memperkirakan jumlah basil tahan asam yang terdapat pada sediaan. (price, 1999:755).

Tes laboratorium spesimen dahak

Managemen Terapi

Dalam pengobatan TB Paru dibagi menjadi 2 :

Jangka pendek

Dengan tata cara pengobatan : setiap hari dengan jangka waktu 1-3 bulan

streptomisin injeksi 750 mg

ethambutol 1000 mg

isoniazid 400 mg

Jangka panjang

Tata cara pengobatan : setiap 2 x seminggu, dengan lama pengobatan kesembuhan menjadi 6-9 bulan.

Dengan menggunakan obat program TB paru kombipack bila ditemukan dalam pemeriksaan sputum BTA Å dengan kombinasi obat :

Rifampicin

Isoniazid (INH)

Ethambutol

Pyridoxin (B6)

Tujuan pengobatan pada penderita TB Paru selain untuk mencegah kematian, mencegah kekambuhan atau resistensi terhadap OAT serta memutuskan mata rantai penularan. Pengobatan tuberkulosis terbagi menjadi 2 fase yaitu fase intensif (2-3 bulan) dan fase lanjutan (4-7 bulan). Panduan obat yang digunakan terdiri dari obat utama dan obat tambahan.

C. ASUHAN KEPERAWATAN

Pengkajian

a. Aktivitas /Istirahat

Kelemahan umum dan kelelahan.

Napas pendek dgn. Pengerahan tenaga.

Sulit tidur dgn. Demam/kerungat malam.

Mimpi buruk.

Takikardia, takipnea/dispnea.

Kelemahan otot, nyeri dan kaku.

a. Integritas Ego :

Perasaan tak berdaya/putus asa.

Faktor stress : baru/lama.

Perasaan butuh pertolongan

Denial.

Cemas, iritable.

a. Makanan/Cairan :

1) Kehilangan napsu makan.

2) Ketidaksanggupan mencerna.

3) Kehilangan  BB.

4) Turgor kulit buruk, kering, kelemahan otot, lemak subkutan tipis.

a.   Nyaman/nyeri :

Nyeri dada saat batuk.

Memegang area yang sakit.

Perilaku distraksi.

a.   Pernapasan :

Batuk (produktif/non produktif)

Napas pendek.

Riwayat tuberkulosis

Peningkatan jumlah pernapasan.

Gerakan pernapasan asimetri.

Perkusi :  Dullness, penurunan fremitus pleura terisi cairan).

Suara napas : Ronkhi

Spuntum : hijau/purulen, kekuningan, pink.

a. Kemanan/Keselamatan :

Adanya kondisi imunosupresi : kanker, AIDS, HIV positip.

Demam pada kondisi akut.

a. Interaksi Sosial :

Perasaan terisolasi/ditolak.

Analisa Data

No. Data Subjektif Data Objektif Etiologi Problem

1. -Masyarakatmengatakanseringmeludahdisembarang tempat 


-Masyarakatmengatakantidaktahumengenaipenyakit TB paru

-Tidak adapengkhususan alat tenun dan alat makanantarapenderitadengan orang yang sehat.


- 50 KK dari 1000 KK menderitapenyakit TB paruditandaidenganmasyarakatterlihatbatukterusmenerus, lemas, letih. Kurangnyapengetahuanmasyarakattentangpenyakit TB paru Terjadinyapenularan TB paru

2. -Masyarakatmengatakanmalasdanseringlupaminumobatkarenaharusmeminumobatsecararutindalamjangkawaktu yang lama.

-Masyarakatmengatakankurangnyapengawasandalamminum OAT -40% darimasyarakatdesaX masihbanyak yang menderita TB paru.


-Tidakadanyapengawas OAT. -kurangnya PMO di komunitas. -terjadikegagalanpengobatan (drop out) di desa X

3. -Masyarakat yang menderita TB parumengatakannafsumakanmenurun.


-Masyarakatterlihatkurus, lemah, letih, danlesu. Status ekonomirendah Gangguannutrisi



Diagnosa Keperawatan

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :

 Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis

 Kerusakan membran alveolar kapiler

 Sekret yang kental

 Edema bronchial

Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :

 Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap

 Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar

 Malnutrisi

 Terkontaminasi oleh lingkungan

 Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman

Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan, berhubungan dengan :

 Tidak ada yang menerangkan

 Interpretasi yang salah, tidak akurat

 Informasi yang didapat tidak lengkap

 Terbatasnya pengetahuan / kognitif

Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan :

 Kelelahan

 Batuk yang sering, adanya produksi sputum

 Dyspnoe

 Anoreksia

 Penurunan kemampuan finansial (keluarga).

Intervensi dan Rasional

Gangguan pertukaran gas berhubungan dengan adanya faktor resiko :

 Berkurangnya keefektifan permukaan paru, atelektasis

 Kerusakan membran alveolar kapiler

 Sekret yang kental

 Edema bronchial


Intervensi

Kaji dyspnoe, takipnoe, bunyi pernafasan abnormal. Meningkatnya respirasi, keterbatasan ekspansi dada dan fatique.

TB paru dapat menyebabkan meluasnya jangkauan dalam paru-paru yang berasal dari bronchopneumonia yang meluas menjadi inflamasi, nekrosis, pleural efusion dan meluasnya fibrosis dengan gejala-gejala respirasi distress.

Evaluasi perubahan tingkat kesadaran, catat tanda-tanda sianosis dan perubahan kulit, selaput mukosa dan warna kuku.

Akumulasi sekret dapat mengganggu oksigenasi di organ vital dan jaringan

Demontrasikan/anjurkan untuk mengeluarkan nafas dengan bibir disiutkan, terutama pada klien dengan fibrosis atau kerusakan parenkhim.

Meningkatnya resistensi aliran udara untuk mencegah kolapsnya jalan nafas dan mengurangi residu dari paru-paru

Anjurkan untuk bedrest/mengurangi aktivitas

Mengurangi konsumsi oksigen pada periode respirasi

Kolaborasi

Monitor BGA

Menurunnya oksigen ( PaO2 ), saturasi atau meningkatnya PaCo2 menunjukkan perlunya penanganan yang lebih adekuat atau perubahan therapi.

Memberikan oksigen tambahan

Membantu mengoreksi hipoksemia yang secara sekunder mengurangi ventilasi dan menurunnya tegangan paru.

Resiko infeksi dan penyebaran infeksi berhubungan dengan :

 Daya tahan tubuh menurun, fungsi silia menurun, sekret yang menetap

 Kerusakan jaringan akibat infeksi yang menyebar

 Malnutrisi

 Terkontaminasi oleh lingkungan

 Kurang pengetahuan tentang infeksi kuman

Intervensi 

1. Review patologi penyakit fase aktif/tidak aktif, menyebarnya infeksi melalui bronkhus pada jaringan sekitarnya atau melalui aliran darah atau sistem limfe dan potensial infeksi melalui batuk, bersin, tertawa, ciuman atau menyanyi.

Membantu klien agar klien mau mengerti dan menerima terhadap terapi yang diberikan untuk mencegah komplikasi.

2. Mengidentifikasi orang-orang yang beresiko untuk terjadinya infeksi seperti anggota keluarga, teman, orang dalam satu perkumpulan.

Memberitahukan kepada mereka untuk mempersiapkan diri untuk mendapatkan terapi pencegahan

3. Anjurkan klien menampung dahaknya jika batuk

Kebiasaan ini untuk mencegah terjadinya penularan infeksi.

4. Gunakan masker setap melakukan tindakan

Untuk mengurangi resiko penyebaran infeksi

5. Monitor temperatur

Febris merupakan indikasi terjadinya infeksi.

6. Ditekankan untuk tidak menghentikan terapi yang dijalani

Periode menular dapat terjadi hanya 2 – 3 hari setelah permulaan kemoterapi tetapi dalam keadaan sudah terjadi kavitas atau penyakit sudah berlanjut sampai tiga bulan.

   Kolaborasi

7. Pemberian terapi untuk ana

 a.  INH, Etambutol, Rifampisin, INH adalah obat pilihan bagi penyakit TB primer dikombinasikan dengan obat-       obat lainnya. Pengobatan jangka pendek INH dan    Rifampisin selama 9 bulan dan etambutol untuk 2 bulan pertama.

b. Pyrazinamid ( PZA ) / aldinamide, Paraamino Salicyl ( PAS ), Sycloserine,    Streptomysin

Obat-obat sekunder diberikan jika obat-obat primer sudah resisten.

 c.  Monitor sputum BTA

 Klien dengan 3 kali pemeriksaan BTA negatif, terapi diteruskan sampai batas         waktu yang ditentukan.

Kurangnya pengetahuan keluarga tentang kondisi, pengobatan, pencegahan, berhubungan dengan :

 Tidak ada yang menerangkan

 Interpretasi yang salah, tidak akurat

 Informasi yang didapat tidak lengkap

 Terbatasnya pengetahuan / kognitif


Intervensi

Kaji kemampuan belajar klien misalnya : tingkat kecemasan, perhatian, kelelahan, tingkat partisipasi, lingkungan yang memungkinkan klien untuk belajar, seberapa banyak yang telah diketahui, media yang tepat dan siapa yang dipercaya.

Kemampuan belajar berkaitan dengan keadaan emosi dan kesiapan fisik. Keberhasilan tergantung pada sebatasmana kemampuan klien.

Mengidentifikasi tanda-tanda yang dapat dilaporkan pada dokter misalnya : hemoptisis, nyeri dada, demam, kesulitan nafas, kehilangan pendengaran, vertigo.

Mengindikasikan perkembangan penyakit atau efek samping dari pengobatan yang membutuhkan evaluasi secepatnya.

Menekankan pentingnya asupan diet TKTP dan intake cairan yang adekuat.

Mencukupi kebutuhan metabolik, mengurangi kelelahan, intake cairan yang memadai membantu mengencerkan dahak.

Berikan informasi yang spesifik dalam bentuk tulisan untuk klien dan keluarga misalnya : jadwal minum obat.

Informasi tertulis dapat mengingatkan klien tentang informasi yang telah diberikan. Pengulangan informasi dapat membantu mengingatkan klien.

Menjelaskan dosis obat, frekwensi, tindakan yang diharapkan dan perlunya therapi dalam jangka waktu lama. Mengulangi penyuluhan mengenai potensial interaksi antara obat yang diminum dengan obat / subtansi lain.

Meningkatkan partisipasi klien dan keluarga untuk mematuhi aturan therapi dan mencegah terjadinya putus obat.

Jelaskan tentang efek samping dari pengobatan yang mungkin timbul, misalnya : mulut kering, konstipasi, gangguan penglihatan, sakit kepala, peningkatan tekanan darah.

Dapat mencegah keraguan terhadap pengobatan dan meningkatkan kemampuan klien untuk menjalani terapi.

Merujuk pemeriksaan mata saat memulai dan menjalani therpi etambutol.

Efek samping utama etambutol adalah menurunkan ketajaman penglihatan dan juga mengurangi kemampuan untuk mempersepsikan warna hijau.

Memberikan dorongan pada klien dan keluarga untuk mengungkapkan kecemasan/keprihatinannya serta memberikan jawaban yang jujur atas pertayaannya. Jangan berusaha menyangkal pernyataanya.

Memberikan kesempatan untuk mengubah pandangannya yang salah dan meredakan kecemasannya. Penyangkalan terhadap perasaannya akan memperburuk mekanisme koping yang merugikan kesehatannya.

Review tentang cara penularan TB ( misalnya : umumnya melalui inhalasi udara yang mengandung kuman, tapi mungkin juga menular melalui urine jika infeksinya mengenai sistem urinaria ) dan resiko kambuh kembali.

Pengetahuan yang cukup dapat mengurangi resiko penularan / kambuh kembali. Komplikasi yang berhubungan dengan tidak adekuatnya penyembuhan TB meliputi : formasi abses, empisema, pneumothorak, fibrosis, efusi pleura, empyema, bronkhiektasis, hemoptisis, ulcerasi GI, fistula bronkopleural, TB laring, dan penularan kuman.

Perubahan kebutuhan nutrisi, kurang dari kebutuhan berhubungan dengan :

 Kelelahan

 Batuk yang sering, adanya produksi sputum

 Dyspnoe

 Anoreksia

 Penurunan kemampuan finansial (keluarga).


Intervensi

Kaji dan komunikasikan status nutrisi klien dan keluarga seperti yang dianjurkan :

Catat turgor kulit

Timbang berat badan

Integritas mukosa mulut, kemampuan dan ketidakmampuan menelan, adanya bising usus, riwayat nausea, vomiting atau diare.

Digunakan untuk mendefinisikan tingkat masalah dan intervensi

Mengkaji pola diet klien yang disukai/tidak disukai

Membantu intervensi kebutuhan yang spesifik, meningkatkan intake diet klien.

Memonitor intake dan output secara periodik.

Mengukur keefektifan nutrisi dan cairan.

Catat adanya anoreksia, nausea, vomiting, dan tetapkan jika ada hubungannya dengan medikasi. Monitor volume, frekwensi, konsistensi BAB.

Dapat menentukan jenis diet dan mengidentifikasi pemecahan masalah untuk meningkatkan intake nutrisi.

Anjurkan bedrest

Membantu menghemat energi khususnya terjadinya metabolik saat demam.

Lakukan perawatan oral sebelum dan sesudah terapi respirasi

Mengurangi rasa yang tidak enak dari sputum atau obat-obat yang digunakan untuk pengobatan yang dapat merangsang vomiting.


BAB III

PENUTUP

Kesimpulan

Pengkajian Komunitas dapat memberikan data yang sesuai untuk permasalahan kesehatan Komunitas

Diagnosa keperawatan komunitas ditentukan bersama-sama sesuai dengan masalah kesehatan komunitas

Penyusunan perencanaan dilakukan dengan menentukan prioritas, menetapkan tujuan, identifikasi sumber daya keluarga, dan  menyeleksi intervensi komunitas

Tindakan keperawatan komunitas sesuai dengan  rencana yang telah ditentukan dengan memobilisasi sumber-sumber daya yang ada di keluarga, masyarakat, dan pemerintah


Saran

Diharapkan masyarakat secara mandiri dapat menilai status kesehatannya sehingga status kesehatan masyarakat meningkat.

Mahasiswa dan perawat dapat memahami karakteristik budaya termasuk didalamnya adalah bahasa daerah agar proses keperawatan dapat berlangsung dengan baik.


DAFTAR PUSTAKA

Departeman Kesehatan. Republik Indonesia. 2002. Pedoman Nasional Penanggulangan Tuberkulosis.Jakarta.

Doengoes, (1999). Perencanaan Asuhan Keperawatan. Jakarta : EGC

Mansjoer, Arif., et all. (1999). Kapita Selekta Kedokteran. Fakultas Kedokteran UI : Media Aescullapius. 

Mubarak,Iqbal Wahid. 2009. Pengantar Keperawatan Komunitas.Jakarta. Sagung seto.

Price, Sylvia A dan Lorraine M Wilson. 1995. Patofisiologi Konsep Klinis Proses-Proses Penyakit. Edisi 4. Jakarta : EGC.

Smeltzer, Suzanne C. 2001. Buku Ajar Keperawatan Medikal Bedah Brunner and Suddarth Ed. 8. Jakarta : EGC

Sudiharto, 2007. Asuhan Keperawatan Dengan Pendekatan Keperawatan Transkultural. Jakarta : EGC.

Taqiyyah,M.kep dan Mohammad Jauhar S,pd.,2018.Asuhan Keperawatan : Panduan lengkap Menjadi  Perawat Prafesional Jilid 1, 2018


Entri yang Diunggulkan

20 judul penelitian Farmasi

Berikut: Analisis Perbedaan Tingkat Kepatuhan Minum Obat Antihipertensi pada Pasien Usia Produktif dan Lansia di Puskesmas X Uji Efektivitas...