Senin, 18 April 2022

Global Initiative for Asthma Asma

1.    Klasifikasi

Menurut Global Initiative for Asthma (GINA, 2012), asma diklasifikasian atas asma berdasarkan gambaran klinis dan asma berdasarkan derajat serangan.

a.       Asma berdasarkan gambaran klinis

1)      Asma Intermitten

Asma Intermitten ditandai dengan :

a)      gejala kurang dari 1 kali seminggu

b)      eksaserbasi singkat

c)      gejala malam tidak lebih dari 2 kali sebulan

d)     bronkodilator diperlukan bila ada serangan

e)      jika serangan agak berat mungkin memerlukan kortikosteroid

f)       APE atau VEP1  ≥ 80% prediksi

g)      variabiliti APE atau VEP1  < 20%

2)      Asma Persisten Ringan

Asma persisten ringan ditandai dengan :

1)      gejala asma malam >2x/bulan

2)      eksaserbasi >1x/minggu, tetapi <1x/hari

3)      eksaserbasi mempengaruhi aktivitas dan tidur

4)      membutuhkan bronkodilator dan kortikosteroid

5)      APE atau VEP1 ≥ 80% prediksi

6)      variabiliti APE atau VEP1  20-30%

 

 

 

3)      Asma Persisten Sedang

Asma persisten sedang ditandai dengan :

a)      gejala hampir tiap hari

b)      gejala asma malam >1x/minggu

c)      eksaserbasi mempengaruhi aktivitas dan tidur

d)     membutuhkan steroid inhalasi dan bronkhodilator setiap hari

e)      APE atau VEP1 60-80%

f)       variabiliti APE atau VEP1  >30%

4)      Asma Persisten Berat

Asma persisten berat ditandai dengan :

a)      APE atau VEP1 <60% prediksi

b)      variabiliti APE atau VEP1  >30%


 

Tabel 2.1 Klasifikasi asma berdasarkan gambaran klinis menurut GINA (2012).

Derajat Asma

Gejala

Gejala Malam

Faal Paru

Intermitten

Bulanan

 

APE ≥80%

 

Gejala < 1x/minggu, Tanpa gejala diluar serangan, serangan singkat

≤ 2 kali sebulan

VEP1≥80% nilai prediksi APE ≥80% nilai terbaik, variabiliti APE<20%

Persisten ringan                      

Mingguan

 

APE >80%

 

Gejala >1x/minggu tetapi ≤1 kali/hari, serangan dapat menganggu aktivitas dan tidur

>2 kali sebulan

VEP1≥80% nilai prediksi APE ≥80% nilai terbaik, variabiliti APE 20%-30%

Persisten sedang

Harian

 

APE 60-80%

 

Gejala setiap hari, serangan mengenggu aktivitas dan tidur, membutuhkan bronkodilator setiap hari

>2 kali sebulan

VEP1 60-80% nilai prediksi APE ≥80% nilai terbaik, variabiliti APE>30%

Persisten berat

Kontinyu

 

APE≤60%

 

Gejala terus menerus/sering, sering kambuh, aktifiti fisik terbatas

Sering

VEP1≤60% nilai prediksi APE≤60% nilai terbaik, variabiliti APE>30%

 

a.       Asma berdasarkan derajat serangan

Table 2.2 Klasifikasi asma berdasarkan derajat serangan menurut GINA (2012).

Karakteristik

Ringan

Sedang

Berat

Aktivitas

Dapat berjalan
Dapat berbaring

Jalan terbatas
Lebih suka duduk 

Sukar berjalan
Duduk membungkuk ke depan

Bicara

Beberapa kalimat

Kalimat terbatas

Kata demi kata

Kesadaran     

Mungkin terganggu

Biasanya terganggu

Biasanya terganggu

Frekuensi nafas

Menigkat

Menigkat

Sering > 30 kali/menit

Retraksi otot bantu napas

Umumnya tidak ada

Kadang kala ada 

Kadang kala ada 

Mengi

Lemah sampai sedang

Keras

Keras

Frekuensi nadi

<100

100-200 x/menit

>120

Pulsus paradoksus

Tidak ada (<10mmHg)

Mungkin ada (10-25 mmHg)

Sering ada (>25 mmHg)

APE sesudah bronkodilator (%prediksi)

>80%

60-80%

<60%

PaCO2

<45 mmHg

<45 mmHg

<45 mmHg

SaO2

>95%

91-95%

<90%

 

Klasifikasi asma menurut Andra & Yessie (2013), sering dicirikan  sebagai berikut :

a.       Asma ekstrinsik/alergi

Asma yang disebabkan oleh allergen yang diketahui masanya sudah terdapat semenjak anak-anak seperti alergi terhadap protein, serbuk sari, bulu halus, binatang dan debu.

b.      Asma intrinsik/idiopatik

Asma yang tidak ditemukan faktor pencetus yang jelas, tetapi adanya faktor-faktor non spesifik seperti : flu, latihan fisik atau emosi sering memicu serangan asma. Asma ini sering muncul/timbul sesudah usia 40 tahun setelah menderita infeksi sinus/cabang trakeobronchial.

c.       Asma campuran

Asma yang terjadi/timbul karena adanya komponen asma ekstrinsik beserta asma intrinsik.


Konsep Dasar Penyakit Asma, Anatomi fisiologi

Dengan bernafas setiap sel dalam tubuh menerima persediaan oksigennya dan pada saat yang sama melepaskan produk oksidasinya. Oksigen yang bersenyawa dengan karbon dan hidrogen dari jaringan memungkinkan setiap sel melangsungkan sendiri proses metabolismenya, yang berarti pekerjaan selesai dan hasil buangan dalam bentuk karbondioksida (CO2) dan air (H2O) dihilangkan. Pernafasan merupakan proses ganda, yaitu terjadinya pertukaran gas di dalam jaringan atau “pernafasan dalam” dan di dalam paru-paru atau “pernafasan luar” (untuk uraian secara fisiologi tentang pernafasan). Udara ditarik ke dalam paru-paru pada waktu mengeluarkan nafas. Udara masuk melalui jalan pernafasan (Pearce, 2009).

 Gambar Anatomi Fisiologi Pernapasan

a.      Rongga Hidung

Rongga hidung dilapisi selaput lendir yang sangat kaya akan pembuluh darah, bersambung dengan lapisan faring dan selaput lendir semua sinus yang mempunyai lubang masuk ke dalam rongga hidung. Daerah pernafasan dilapisi epitelium selinder dan sel epitel berambut yang mengandung sel cangkir atau sel lendir. Sekresi sel itu membuat permukaan nares basah dan berlendir. Di atas septum nasalis dan konka, selaput lendir ini paling tebal, yang diuraikan di bawah. Tiga tulang kerangka (konka) yang diselaputi epitalium pernafasan, yang menjorok dari dinding lateral hidung ke dalam rongga, sangat memperbesar permukaan selaput lendir tersebut. Sewaktu udara melalui hidung, udara disaring oleh bulu-bulu yang terdapat di dalam vestibulum. Karena kontak dengan permukaan lendir yang dilaluinya, udara menjadi hangat, dan karena penguapan air dari permukaan selaput lendir, udara menjadi lembap. Hidung menghubungkan lubang-lubang sinus udara paranasalis yang masuk ke dalam rongga-rongga hidung, dan juga menghubungkan lubang-lubang nasolakrimal yang menyalurkan air mata dari mata ke dalam bagian bawah rongga nasalis, ke dalam hidung (Pearce, 2009).

b.     Faring

Faring adalah pipa berotot yang berjalan dari dasar tengkorak sampai pesambungannya dengan usofagus pada ketinggian tulang rawan krikoid. Maka letaknya di belakang hidung (nasofaring), di belakang mulut (orofaring) dan di belakang laring (faring-laringeal) (Pearce,2009).

c.      Laring

Laring terdiri atas kepingan tulang rawan yang diikat bersama oleh ligamen dan membran. Yang terbesar diantaranya ialah tulang rawan tiroid, dan di sebelah depannya terdapat benjolan subkutaneus yang dikenal sebagai jakun, yaitu di sebelah depan leher. Laring terdiri atas dua lempeng atau lamina yang bersambung digaris tengah. Di tepi atas terdapat lekukan berupa V. Tulang rawan krikoid terletak di bawah tiroid, bentuknya seperti cincin mohor denga mohor cincinnya di sebelah belakang (ini adalah tulang rawan satu-satunya yang berbentuk lengkap). Tulang rawan lainnya ialah kedua tulang rawan aritenoid yang menjulang di sebelah belakang krikoroid, kanan dan kiri tulang rawan kuneiform, dan tulang rawan kornikulata yang sangat kecil. Terkaid di puncak tulang rawan tiroid terdapat epiglotis, yang berupa katup tulang rawan dan membantu menutup laring sewaktu menelan. Laring dilapisi sejenis selaput lendir yang sama dengan yang di trakea, kecuali pita suara dan bagian epiglotis yang dilapisi sel epitelium berlapis. Pita suara terletah di sebelah dalam laring, berjalan dari tulang rawan tiroid di sebelah depan sampai dikedua tulang rawan aritenoid. Dengan gerakan dari tulang rawan aritenoid yang ditumbulkan oleh berbagai otot laringeal, pita suara ditegangkan atau dikendurkan. Dengan demikian lebar sela-sela antara pita-pita atau rima glotidis berubah-ubah sewaktu bernafas dan berbicara. Suara dihasilkan karena getaran pita yang disebabkannudara yang melalui glotis. Berbagai otot yang terkait pada laring mengendalikan suara, dan juga menutup lubang atas laring sewaktu menelan (Pearce, 2009).

d.   Trakea

Trakea atau batang tengkorak kira-kira sembilan sentimeter panjangnya. Trakea berjalan dari laring sampai kira-kira ketinggian vertebra torokalis kelima dan di tempat ini bercabang menjadi dua bronkus (bronki). Trakea tersusun atas enam belas sampai dua puluh lingkaran tak lengkap berupa cincin tulang rawan yang diikat bersama oleh jaringan fibrosa dan yang melengkapi lingkaran di sebelah belakang trakea, selain itu juga memuat beberapa jaringan otot. Trakea dilapisi selaput lendir yang terdiri atas epitelium bersilia dan sel cangkir. Silia ini bergerak menuju ke atas ke arah laring, maka dengan gerakan ini debu dan butir-butir halus lainnya yang turut masuk bersama dengan pernafasan dapat dikeluarkan. Tulang rawan berfungsi mempertahankan agar trakea tetap terbuka. Karena itu, di sebelah belakangnya tidak tersambung, yaitu di tempat trakea menempel pada usofagus, yang memisahkannya dari tulang belakang. Trakea servikalis yang berjalan melalui leher disilang oleh istmus kelenjar tiroid, yaitu belahan kelenjar yang melingkari sisi-sisi trakea. Trakea toraksia berjalan melintasi mediastinum,  di belakang sternum, menyentuh arteri inominata dan arkus aorta. Usofagus terletak di belakang trakea. Kedua bronkus yang terbentuk dari belahan dua trakea pada ketinggian kira-kira vertebra torakalis kelima mempunyai struktur serupa dengan trakea dan dilapisi oleh jenis sel yang sama. Bronkus-bronkus itu berjalan ke bawah dan ke samping ke arah tampak paru-paru. Bronkus kanan lebih pendek dan lebih lebar dari pada yang kiri, sedikit lebih tinggi dari pada arteri pulmonalis dan mengeluarkan sebuah cabang yang disebutbronkus lobus atas, cabang kedua setelah timbul dari cabang utama lewat di bawah arteri, disebut bronkus lobus bawah. Bronkus lobus tengah keluar dari bronkus lobus bawah. Bronkus kiri lebih panjang dan lebih langsing dari pada yang kanan, dan berjalan di bawah arteri pulmonalis sebelum dibelah menjadi beberapa cabang yang berjalan ke lobus atas dan bawah (Pearce, 2009).

e.    Paru-paru

Paru-paru merupakan alat pernapasan utama. Paru-paru mengisi rongga dada. Terletak di sebelah kanan dan kiri dan di tengah dipisahkan oleh jantung beserta pembuluh darah besarnya dan struktur lainnya yang terletak di dalam mediastinum. Paru-paru adalah organ yang berbentuk kerucut dengan ai atas dan apeks (puncak) di atas dan muncul sedikit lebih tingi daripada klavikula di dalam dasar leher. Pangkal paru-paru duduk di atas landai rongga toraks, di atas diafragma. Paru-paru mempunyai permukaan luar yang menyentuh iga-iga, permukaan dalam yang memuat tampuk paru-paru, sisi belakang yang menyentuh tulang belakang, dan sisi depan yang menutupi sebagian sisi depan jantung. Paru-paru dibagi menjadi beberapa belahan atau lobus oleh fisura. Paru-paru kanan mempunyai tiga lobus dan paru-paru kiri dua lobus. Setiap lobus tersusun atas lobula. Sebuah pipa bronkial kecil masuk ke dalam setiap lobuka dan semakin bercabang, semakin menjadi tipis dan akhirnya berakhir menjadi kantong-kantong kecil, yang merupakan kantong-kantong udara paru-paru. Jaringan paru-paru elastis, berpori, dan seperti spons. Di dalam air, paru-paru mengapung karena udara yang ada di dalamnya. Fungsi paru-paru ialah pertukaran gas oksigen dan karbondioksida. Pada pernapasan melalui paru-paru atau pernapasan eksterna, oksigen dipungut melalui hidung dan mulut pada waktu bernapas, oksigen masuk melalui trakea dan pipa bronkial ke alveoli, dan dapat berhubungan erat dengan darah di dalam kapiler pulmonaris. Di dalam paru-paru, karbondioksida menembus membran alveolar-kapiler dari kapiler darah ke alveoli, dan setelah melalui pipa bronkial dan trakea, dihembuskan keluar melalui hidung dan mulut. Besar daya muat oleh paru-paru ialah 4.500 ml sampai 5.000ml atau 41/2 sampai 5 liter udara. Hanya sebagian kecil dari udara ini, kira-kira 1/10 atau 500 ml adalah udara pasang-surut (tidal air), yaitu yang dihirup masuk dan dihembuskan keluar pada pernapasan biasa dengan tenang. Volume udara yang dapat dicapai masuk dan keluar paru-paru pada penarikan napas paling kuat disebut kapasitas vital paru-paru. Diukurnya dengan alat spirometer. Pada seorang laki-laki, normal 4-5 liter dan pada seorang perempuan 3-4 liter. Kapasitas itu berkurang pada penyakit paru-paru, penyakit jantung (yang menimbulkaan kongesti paru-paru), dan kelemahan otot pernapasan (Pearce, 2009).

Konsep Dasar Penyakit Asma

1.   Definisi

Pada dasarnya pernafasan dibentuk oleh jalan napas atau saluran napas dan paru-paru beserta pembungkusnya (pleura) dan rongga dada yang melindunginya. Di dalam rongga dada terdapat juga jantung di dalamnya. Rongga dada dipisahkan dengan rongga perut oleh diafragma. Saluran napas yang dilalui udara adalah hidung, faring, laring, trakea, bronkus, bronkiolus, dan alveoli. Di dalamnya terdapat satu sistem yang sedemikian rupa dapat menghangatkan udara sebelum sampai ke alveoli. Terdapat juga sistem pertahanan yang memungkinkan kotoran atau benda asing yang masuk dapat dikeluarkan baik melalui batuk maupun bersin. (Djojodibroto, 2009).

Asma bronkial atau asma adalah suatu kelainan berupa inflamasi (peradangan) kronik saluran napas yang menyebabkan hipereaktivitas bronkus terhadap berbagai rangsangan yang ditandai dengan gejala episodik berulang berupa mengi, batuk, sesak napas dan rasa berat di dada terutama pada malam hari atau dini hari yang umumnya bersifat reversibel baik dengan atau tanpa pengobatan. (Depkes RI, 2009).

Asma bronkial adalah penyakit inflamasi kronis saluran napas yang bersifat reversible dengan ciri meningkatnya respon trakea dan bronkus terhadap berbagai rangsangan dengan manifestasi adanya penyempitan jalan nafas yang luas dan derajatnya dapat berubah-ubah secara spontan yang ditandai dengan mengi episodik, batuk, dan sesak di dada akibat penyumbatan saluran napas (Henneberger dkk., 2011).

Asma bronkial atau asma adalah gangguan inflamasi kronik saluran napas yang melibatkan banyak sel dan elemennya. Inflamasi kronik menyebabkan peningkatan hiperesponsif jalan napas yang menimbulkan gejala episodik berulang berupa mengi, sesak napas, dada terasa berat dan batuk-batuk terutama malam dan atau dini hari. (WHO, 2013).

Asma ~ Makalah Asma, Pendahuluan Asma,


 

BAB I PENDAHULUAN

 

A.      Latar Belakang

Masalah kesehatan yang semakin komplek, menuntut kualitas asuhan keperawatan yang lebih banyak pada masyarakat dari berbagai tingkat usia terutama yang mempunyai gangguan fungsi tubuh yang bersifat kronis. Berbagai penyakit saat ini bersifat kronis serta mengancam kehidupan dan kesejahteraan keluarga dan masyarakat. Salah satu penyakit yang terbukti kronis dan banyak mengancam saat ini di dunia adalah gangguan Sistem pernapasan. Ancaman yang terjadi pada sistem ini sebagian besar terjadi akibat adanya infeksi hingga keganasan. Tuberklosis paru, efusi pleura, asma bronkial hingga kanker paru terbukti menempati urutan teratas dalam penyakit sistem pernafasan di dunia (WHO, 2012).

Menurut Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) pada tahun 2012, sebanyak 300 juta penduduk di dunia menderita penyakit asma dari berbagai golongan umur dan ras. Dalam 40 tahun terakhir prevalensi asma telah meningkat disemua negara. ( WHO, 2012 ). WHO memperkirakan 100-150 juta penduduk dunia saat ini terkena penyakit asma dan diperkirakan akan mengalami penambahan 180.000 setiap tahunnya. (WHO, 2013).

Menurut WHO tahun 2012, beban penyakit asma di Asia Tenggara sangat berat yaitu 1 dari 4 orang penderita asma dewasa tidak bekerja dan kehilangan hari kerja selama lebih dari 6 hari karena asma mencapai 19,2%. Di Asia Tenggara terutama Malaysia, Thailand, Brunei Darussalam, Indonesia dan Singapura, asma merupakan termasuk penyebab kematian kedelapan. Penelitian pada guru guru di India menghasilkan prevalensi asma sebesar 4,1%, sementara laporan dari Taiwan sebesar 6,2%. ( WHO, 2012 )

Aktivitas adalah keaktifan atau kegiatan berupa usaha, pekerjaan, kekuatan, dan ketangkasan dalam berusaha atau kegairahan. Aktivitas yang dimaksud disini adalah pada pasien asma bronkial. Aktivitas pencegahan kekambuhan asma adalah usaha yang dilakukan oleh pasien asma sebagai upaya untuk mencegah kekambuhan asma. Aktivitas pencegahan kekambuhan asma yang dapat dilakukan adalah dengan menjaga kesehatan, menjaga kebersihan lingkungan, menghindari faktor pencetus serangan asma dan menggunakan obat – obat anti asma. ( Sundaru, 2007 ).

Usaha untuk menjaga agar tidak kambuh juga bergantung pada pengetahuan klien terhadap penyakitnya. Dengan pengetahuannya tersebut klien memiliki alasan dan landasan untuk menentukan suatu pilihan. Informasi dan pengetahuan tentang asma sangat penting. Yang harus diajarkan kepada pasien adalah mengenal faktor pemicu serangan asma pada dirinya serta pemahaman tentang pencegahan, perawatan dan kerja obat asma. Strategi ini mengurangi frekuensi gejala, eksaserbasi, dampak asma pada gaya hidup serta kekambuhan pada asma (Chang, Esther et al, 2010).

Di Indonesia, asma masuk dalam sepuluh besar penyebab kesakitan dan kematian, dengan jumlah penderita tahun 2012 sebanyak 11,5 juta. Umumnya prevalensi asma bronkial pada orang dewasa lebih tinggi dari anak. Angka ini juga berbeda-beda antara satu kota dengan kota lain di negara yang sama. Di Indonesia prevalensi asma berkisar antara 5-7 % (Sukamto, 2014).

Prevalensi penyakit asma di provinsi Kalimantan Barat sebesar 3,7% ( kisaran: 1,4% - 6,9% ), tertinggi di kabupaten Sekadau dan diikuti oleh kabupaten Bengkayang, Landak dan Ketapang serta terdapat disemua kabupaten/kota. Diagnosis oleh Nakes sebesar 2,1%, jadi cakupan kasus asma oleh tenaga kesehatan (nakes) sebesar 56,7%. ( Riskesdas, 2013 )

Asma bronkial mempunyai dampak yang sangat menganggu aktivitas sehari – hari. Semakin sering serangan asma terjadi maka akibatnya akan semakin fatal sehingga mempengaruhi aktivitas seperti pemilihan  pekerjaan yang dapat dilakukan, aktivitas fisik dan aspek kehidupan lain ( GINA, 2012 ) 

 

 

 

 

 

 

Berdasarkan studi pendahuluan yang dilakukan penulis di rekam medik Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat, jumlah pasien Asma Bronkial periode tahun 2014-2017 adalah sebagai berikut:

Tabel 1.1 Jumlah pasien dengan diagnosa Asma Bronkial Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat periode tahun 2014-2017

No

Tahun

Asma (Orang)

1.

2014

31

2.

2015

34

3.

2016

38

4.

2017 (Januari – Agustus)

30

 

Total

133

(Sumber: Rekam Medik RSUD Pemangkat Tahun 2017)

 

Adanya pendekatan asuhan keperawatan pada pasien dengan asma bronkial diharapkan memberikan hasil yang baik yaitu berkurangnya keluhan dari gejala yang ditimbulkan sehingga dapat meningkatkan derajat kesembuhan pasien. Tujuan perawatan asma adalah untuk menjaga agar asma tetap terkontrol yang ditandai dengan penurunan gejala asma yang dirasakan atau bahkan tidak sama sekali, sehingga penderita dapat melakukan aktivitas tanpa terganggu oleh asmanya. Pengontrolan terhadap gejala asma dapat dilakukan dengan cara menghindari alergen pencetus asma, konsultasi asma dengan tim medis secara teratur, hidup sehat dengan asupan nutrisi yang memadai, dan menghindari stres. Gejala asma dapat dikendalikan dengan pengelolaan yang dilakukan secara lengkap, tidak hanya dengan pemberian terapi farmakologis tetapi juga menggunakan terapi nonfarmakologis yaitu dengan  cara mengontrol gejala yang timbul serta mengurangi keparahan gejala asma yang dialami ketika terjadi serangan. (Wong, 2008).

Berdasarkan pengalaman penulis dalam menangani asma bronkial di RSUD pemangkat, banyak dari pasien melaporkan bahwa tindakan rawat inap yang dialami terjadi tidak hanya satu kali. Seorang pasien melaporkan bahwa dalam tahun yang sama, pasien telah mendapatkan rawat inap sebanyak 3 kali. Keadaan ini sejalan dengan hasil studi (Suryani, 2008) tentang hubungan antara penghetahuan penderita tentang asma bronkial dengan kejadian kekambuhan yang kerap terjadi. Salah satu faktor yang berhubungan dengan masalah kekambuhan adalah kurangnya pengetahuan pasien tentang mengelola faktor alergen atau penyebab kekambuhan.

Dari data diatas, penulis tertarik untuk mengali lebih dalam tentang bagaimana pengetahuan pasien dalam mengenal faktor alergen dan faktor lain yang dapat menyebabkan kekambuhan. Penulis merencanakan membuat asuhan keperawatan pada pasien dengan asma brongkial, namun ditambah dengan menggali faktor yang menyebabkan kekambuhan. Selain itu penulis, juga akan melakukan terapi non farmakologis didalam pemberian asuhan keperawatan pada pasien asma tersebut.

Terapi non farmakologis yang umumnya digunakan untuk pengelolaan asma adalah dengan melakukan terapi pernapasan. Terapi pernapasan bertujuan untuk melatih cara bernapas yang benar, melenturkan dan memperkuat otot pernapasan, melatih ekspektorasi yang efektif, meningkatkan sirkulasi, mempercepat dan mempertahankan pengontrolan asma yang ditandai dengan penurunan gejala dan meningkatkan kualitas hidup bagi penderitanya. Pada penderita asma terapi pernapasan selain ditujukan untuk memperbaiki fungsi alat pernapasan, juga bertujuan melatih penderita untuk dapat mengatur pernapasan pada saat terasa akan datang serangan, ataupun sewaktu serangan asma (Nugroho, 2006).

Berdasarkan latar belakang diatas dan melihat semakin meningkatnya masyarakat yang menderita asma bronkial serta minimnya informasi mengenai penanganan asma bronkial maka penulis tertarik untuk mengambil permasalahan, “Studi Kasus Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Sistem Asma Bronkial Dalam Pencegahan Fase Kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018”.

 

B.       Masalah Penelitian

Berdasarkan uraian pada latar belakang masalah, maka peneliti mencoba untuk merumuskan masalah yaitu Bagaimanakah tindakan pencegahan fase kekambuhan pada pasien dengan asma bronkial di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018 ?

 

C.      Tujuan penelitian

Adapun tujuan penulisan ini adalah :

1.      Tujuan Umum

Memberikan asuhan keperawatan pada pasien asma bronkial dalam pencegahan fase kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat Tahun 2018.

2.      Tujuan Khusus

a.       Mendapatkan gambaran pelaksanaan pengkajian keperawatan pada pasien asma bronkial dalam pencegahan fase kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018.

b.      Mendapatkan gambaran diagnosa keperawatan yang muncul pada pasien asma bronkial dalam pencegahan fase kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018.

c.       Mendapatkan gambaran intervensi keperawatan yang efektif pada pasien asma bronkial dalam pencegahan fase kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018.

d.      Mendapatkan gambaran implementasi keperawatan yang efektif pada pasien asma bronkial dalam pencegahan fase kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018.

e.       Mendapatkan gambaran hasil evaluasi asuhan keperawatan pada pasien asma bronkial dalam pencegahan fase kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat tahun 2018.

 

D.    Manfaat Penelitian

1.      Bagi Rumah Sakit Umum Daerah Pemangkat

Penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai  tambahan rujukan metode pelaksanaan tindakan pencegahan fase kekambuhan meningkatkan kualitas asuhan keperawatan pada pasien dengan asma bronkial dalam Pencegahan Fase Kekambuhan di Rawat Inap Rumah Sakit Umum daerah Pemangkat.

 

 

 

2.      Bagi Jurusan Keperawatan Singkawang

Sebagai tambahan referensi atau masukkan dalam sebuah penelitian keperawatan terutama tentang asma bronkial dan sebagai tambahan informasi di dalam pembelajaran khususnya keperawatan medikal bedah.

3.      Bagi Profesi Keperawatan

Manfaat yang bisa diperoleh bagi profesi keperawatan adalah dapat dijadikan sebagai salah satu intervensi keperawatan yang tepat untuk pasien asma bronkial dalam mencegah kekambuhan.

4.      Bagi Masyarakat/Pasien Asma Bronkial

Hasil dari penelitian ini diharapkan dapat meningkatkan wawasan dan pengetahuan tentang asma bronkial serta dapat menerapkan tindakan atau latihan yang diberikan dalam kehidupan sehari-hari untuk mencegah komplikasi yang lebih berat.

5.      Bagi Peneliti

Manfaat bagi peneliti adalah dapat menjadi awal dari penelitian-penelitian selanjutnya yang terkait dengan keperawatan serta sebagai sarana dan alat untuk meningkatkan pengetahuan atau pengalaman nyata dan pendalaman tentang asuhan keperawatan pada pasien asma bronkial dengan khususnya dalam pencegahan fase kekambuhan.

 

 

 

 

 

Rabu, 13 April 2022

CONTOH MAKALAH KESAHATAN JIWA

 



A.    LATAR BELAKANG

Kesehatan jiwa dan gangguan jiwa sering kali sulit didefinisikan, orang dianggap sehat jika mereka sanggup memainkan peran dalam masyarakat dan perilaku mereka pantas dan adaktif. Sebaliknya, seseorang dianggap sakit jika gagal memainkan peran dan memiliki tanggung jawab atau perilaku tidak pantas (Videbeck, 2008).

Karakteristik sehat jiwa terdiri dari persepsi yang sesuai dengan realitas,  mampu menerima diri sendiri dan orang secara alami, mampu fokus dalam memecahkan masalah, menunjukan kemampuannya secara spontan, mempunyai otonomi, mandiri, puas dengan hubungan interpersonal, kaya pengalaman yang bermanfaat, menganggap hidup ini sebagai sesuatu yang indah (Ngadiran, 2010).

Meskipun penderita gangguan jiwa belum bisa disembuhkan 100%, tetapi para penderita gangguan jiwa memiliki hak untuk sembuh dan diperlakukan secara manusiawi. UU RI No. 18 tahun 2014 Bab I pasal 3 tentang kesehatan jiwa telah dijelaskan bahwa upaya kesehatan jiwa bertujuan menjamin setiap orang dapat mencapai kualitas hidup yang baik, menikmati kehidupan kejiwaan yang sehat, bebas dari ketakutan, tekanan dan gangguan lain yang dapat mengganggu kesehatan jiwa (Kemenkes, 2014).

Gangguan jiwa merupakan suatu penyakit yang disebabkan karena adanya kekacauan pikiran, persepsi dan tingkah laku dimana individu tidak mampu menyesuaikan diri dengan diri sendiri, orang lain, masyarakat, dan lingkungan. Pengertian seseorang tentang penyakit gangguan jiwa berasal dari apa yang diyakini sebagai faktor penyebabnya yang berhubungan dengan biopisikosial. Persepsi masyarakat bahwa penderita gangguan jiwa adalah sesuatu yang mengancam juga harus diluruskan. Selama ini keluarga masih beranggapan bahwa penanganan penderita gangguan jiwa adalah tanggung jawab pihak rumah sakit jiwa saja, padahal faktor yang memegang peranan penting dalam hal perawatan penderita adalah keluarga serta masyarakat di sekitar penderita gangguan jiwa tersebut (Kusumawati, 2009).

Salah satu bentuk gangguan jiwa yang umum terjadi adalah skizoprenia. Sedangkan halusinasi merupakan gejala yang paling sering muncul pada pasien skizoprenia, dimana sekitar 70% dari penderita skizoprenia mengalami halusinasi (Mansjoer, 1999:196). Salah satu gejala psikosis yang dialami penderita gangguan jiwa adalah halusinasi yang merupakan gangguan persepsi dimana klien mempersepsikan sesuatu yang sebenarnya tidak terjadi (Maramis, 2005).

Halusinasi adalah hilangnya kemampuan manusia dalam membedakan rangsangan internal dan rangsangan eksternal. Klien memberi 5 pendapat tentang lingkungan tanpa ada objek atau rangsangan yang nyata, misalnya klien mengatakan mendengar suara padahal tidak ada orang yang berbicara (Kusumawati, 2010).

Menurut data WHO pada tahun 2012 angka penderita gangguan jiwa mengkhawatirkan secara global, sekitar 450 juta orang yang menderita gangguan mental. Orang yang mengalami gangguan jiwa sepertiganya tinggal di negara berkembang, sebanyak 8 dari 10 penderita gangguan mental itu tidak mendapatkan perawatan (WHO, 2012).

Penderita gangguan jiwa mengalami peningkatan yang signifikan setiap tahun di berbagai belahan dunia. Berdasarkan data dari World Health Organization (WHO) dalam Yosep (2013), sekitar 450 juta orang di dunia mengalami gangguan jiwa yang terdiri dari 150 juta mengalami depresi, 90 juta gangguan zat dan alkohol, 38 juta epilepsy, 25 juta skizofrenia serta 1 juta melakukan bunuh diri setiap tahun. Berarti setidaknya terdapat satu dari empat orang mengalami masalah mental dan gangguan kesehatan jiwa, sehingga menjadi masalah yang serius diseluruh dunia.

Menurut kementrian kesehatan Republik Indonesia KEMENKES RI (2012). Gangguan jiwa saat ini telah menjadi masalah kesehatan global bagi setiap Negara tidak hanya di Indonesia saja. Gangguan jiwa yang dimaksud tidak hanya gangguan jiwa psikotik/ skizofrenia saja tetapi kecemasan, depresi dan penggunaan Narkoba Psikotropika dan Zat adiktif lainnya (NAPZA) juga menjadi masalah gangguan jiwa.

Indonesia mengalami peningkatan jumlah penderita gangguan jiwa cukup banyak diperkirakan prevalensi gangguan jiwa berat dengan psikosis/ skizofrenia di Indonesia pada tahun 2013 adalah 1. 728 orang. Adapun proposi rumah tangga yang pernah memasung anggota rumah tangga, gangguan jiwa berat sebesar 1.655 rumah tangga dari 14, 3% terbanyak tinggal di pedasaan, sedangkan yang tinggal diperkotaan sebanyak 10,7%. Selain itu prevalensi gangguan mental emosional pada penduduk umur lebih dari 15 tahun di Indonesia secara nasional adalah 6.0% (37. 728 orang dari subjek yang dianalisis). Provinsi dengan prevalensi gangguan mental emosional tertinggi adalah Sulawesi Tengah (11, 6%), Sedangkan yang terendah dilampung (1,2 %) (Riset Kesehatan Dasar, 2013).

Di Kalimantan Barat data gangguan jiwa dengan harga diri rendah mencapai 554 orang (5,84%), isolasi sosial 329 orang (3, 47%), halusinasi 5934 orang (62,56%), waham 866 orang (9,13%), perilaku kekerasan 680 orang (7,17%), resiko bunuh diri 21 orang (0,22%), defisit perawatan diri 1101 orang (11,61%). (Rekam Medik Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kaimantan Barat, tahun 2015).

Dampak yang dapat ditimbulkan oleh pasien yang mengalami halusinasi adalah kehilangan kontrol dirinya. Dimana pasien mengalami panik dan perilakunya dikendalikan oleh halusinasinya. Dalam situasi ini pasien dapat melakukan bunuh diri (suicide), membunuh orang lain (kill other), bahkan merusak lingkungan. Untuk memperkecil dampak yang ditimbulkan, dibutuhkan penanganan halusinasi yang tepat (Hawari 2009, dikutip dari Chaery 2009).

Berdasarkan uraian diatas bahwa angka kejadian halusinasi yang sering terjadi pada masalah kesehatan jiwa di Indonesia sangat tinggi, sehingga diperlukan “Asuhan Keperawatan yang Komprensif Pada Pasien Pendengaran”.

 

B.     Rumusan Masalah

Berdasarkan permasalahan di atas, maka rumusan masalah penelitian adalah “Bagaimanakah Asuhan Keperawatan Pada Pasien dengan Halusinasi di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kaliamantan Barat Tahun 2017?”

C.    Tujuan Penulisan

Adapun tujuan penulisan ini adalah :

1.      Tujuan Umum

Untuk mengetahui gambaran asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan di Rumah Sakit jiwa Provinsi Kaliamantan Barat Tahun 2017.

2.      Tujuan Khusus

a.    Mengetahui pengkajian keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan di Rumah Sakit jiwa Provinisi Kaliamantan Barat Tahun 2017.

b.    Mengetahui diagnosa keperawatan yang sering muncul pada pasien halusinasi pendengaran dan penglihatan di Rumah Sakit jiwa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2017.

c.    Mengetahui intervensi keperawatan yang efektif untuk pasien dengan halusinasi pendengaran dan pendengaran di Rumah Sakit jiwa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2017.

d.   Mengetahui implementasi  asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan di Rumah Sakit jiwa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2017.

e.    Mengetahui hasil evaluasi asuhan keperawatan pada pasien dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan di Rumah Sakit jiwa Provinsi Kalimantan Barat Tahun 2017.

 

 

 

 

D.    Manfaat

1.      Bagi Rumah Sakit jiwa Daerah singkawang

Makalah ini dapat dijadikan masukan dalam meningkatkan mutu pelayanan kesehatan mengenai Asuhan Keperawatan Pada Pasien Dengan Halusiansi Di Rumah Sakit Jiwa Provinsi Kalimantan Barat.

2.      Bagi institusi pendidikan

Makalah ini dapat dijadikan bahan referensi dan menambah masukan untuk pengembangan penelitian dan bagaimana Asuhan Keperawatan pada pasien dengan halusinasi.

3.      Bagi penulis

Selain menambah wawasan, peneliti juga dapat mengembangkan dan menerapkan Asuhan Keperawatan pada Pasien dengan halusinasi pendengaran dan penglihatan.

E.     Sistematika Penulisan

Dari makalah yang kami buat, kami menggunakan sistematika yang terdiri dari tiga bab yaitu pendahuluan, konsep dasar, laporan kasus, pembahasan dan penutup.

1.      Bab I pendahuluan yang terdiri dari latar belakang masalah, rumusan masalah, tujuan penulisan, manfaat dan sistematika penulisan.

2.      Bab II tinjauan pustaka yang terdiri dari konsep dasar halusinasi dan konsep dasar asuhan keperawatan.

3.      Bab III laporan kasus.

4.      Bab IV pembahasan.

5.      Bab V penutup yang terdiri dari kesimpulan dan saran.

Rabu, 26 Mei 2021

3 CARA SUPAYA KEHIDUPAN DALAM SEGI KEUANGAN ANDA MENJADI LEBIH BAIK KEDEPANNYA


    
Siapa disini yang bercita-cita menjadi orang yang mudah dan bahagia dalam segi finasial. Jika tidak anda boleh skip artikel ini, jika ya mari kita bahas bersama 3 cara agar kehidupan mu mudah dan bahagia, pada dasarnya setiap orang pasti ingin menjadi hidupnya bahagia dan sering bersedekah, dimana semua itu harus di tunjang dengan keuangan yang sangat bagus, karna jika kita sendiri tidak memiliki keuangtan yang bagus bagaiman kita menjadi orang yang sering bersedekah dan BANYAK, sebab dari itu mari kita rubah pola fikir kita menjadi yang tak terbatas dan jangan lupa semua itu harus berdasar pada keyakinan kita semua bahwa "kejarlah keinginan kita dan jadilah diri sendiri" sebab menjadi diri sendiri bukan lah hal yang sulit untuk kita wujudkan. 

1. PENDAPATAN HARIAN
    Siapa disini yang tidak bisa mengartikan poin pertama ini..? yaa benar sekali empat jempol deh buat kamu. Mari kita satukan pikiran kita semua, yang dimaksud dengan Pendapatan Harian yakni, mendapatkan uang atau keuntungan yang bisa kita gunakan untuk memenuhi kebutuhan kita sehari-hari contoh: makan, minum, bahan bakar untuk motor dan mobil, 
    Mengapa saya contohkan hanya 3 hal ini saja, karena 3 hal ini selalu kita butuhkan untuk memenuhi kegiatan kita sehari-hari, lalu apa hubungannya dengan pendapatan sehari-hari yaa? 
    Jika kita memiliki pendapatan harian otomatis 3 hal yakni makan, minum, dan bahan bakar, dapat memangkas pedapatan bulanan kita temen-temen jadi 3 hal ini sudah tidak kita pikirkan pada saat kita mendapatkan gaji bulanan. Dan pada akhirya kita mendapatkan ketenangan hati dimana kita tidak lagi memkiran uang bulanan kita terpangkas untuk biaya kehidupann harian. Saya harap dapat di mengerti.

2. PENDAPATAN BULANAN
Pendapatan bulanan merupakan pendapatan yang kita dapatkan setelah 1 bulan penuh bekerja baik itu Negri maupun Swasta. Pemanfaatan pendapatan bulanan yakni untuk memenuhi kebutuhan seperti PDAM, PLN, CICILAN PRABOT RUMAH, CICILAN MOTOR MOBIL. Mengapa belanja bulanan tidak termasuk pemanfaatan pendapatan bulanan?....  Yaps benar sekali teman
Karena sudah dipotong Pendapatan Harian oke, sampai sini apakah masih ada yang bingung?.... Koment di kolom komentar ya.... 

Entri yang Diunggulkan

Margin Saham: Pengertian, Risiko, dan Saham yang Menarik untuk Dipertimbangkan

Mengenal Margin Saham Dalam dunia investasi saham, istilah margin sering kali menjadi topik yang menarik karena menawarkan peluang memperole...